Menjadi Bayi

Tidak peduli usia kita saat ini berapa. Sudah menjadi janji Allah bahwa; “siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan semata karena Allah, dengan memenuhi syariat dari puasa tersebut, maka hakikatnya mereka telah terlahir kembali dengan jiwa yang baru, jiwa yang suci, bersih seperti seorang bayi yang baru lahir.”

Terlahir kembali, inilah yang sejatinya kita rayakan sebagai hari Raya Iedul Fitri. Hari Kemenangan, setelah sebulan penuh dikandung didalam rahim Bulan Ramadhan.

Merawat Bayi

Bayi yang baru lahir tentu memerlukan pengasuhan yang baik agar dapat tumbuh berkembang dengan baik pula. Karena yang terlahir kembali adalah jiwa, maka bayi berupa jiwa baru ini tentu memerlukan asupan gizi yang tepat dengan kadar dan ukuran yang tepat juga.

Hari ini; ditengah kita menjalankan sosial distancing-physical distancing, tidak banyak yang berkesempatan merayakan hari kelahiran jiwa-jiwa yang baru bersama-sama dengan menggelar pelaksaanaan shalat Iedul Fitri di lapangan terbuka, atau di masjid sebagaimana pada masa-masa normal berlangsung. Namun, tangisan dari bayi yang baru lahir tetap terdengar dari mereka yang menyambut mentari pagi dengan mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil atas kebesaran Allah SWT. Bukan sekedar takbir yang dikumandangkan, namun ini adalah asupan gizi untuk kali pertama bagi bayi yang baru lahir, seperti halnya ketika adzan dikumandangkan, sama halnya seperti kita baru lahir dari rahim Ibu kita. Kumandang takbir yang bergema di susul dengan pelaksanaan sholat Iedul Fitri yang diawali dengan takbir sebanyak 7 kali di rakaat pertama. Lalu pada rakaat kedua sebanyak 5 kali takbir, memiliki pesan simbolik yang mendalam tentang arti dari suatu tekad untuk hidup dan berkehidupan dalam naungan Tauhid. Inilah asupan gizi yang Allah berikan kepada kita sebagai bentuka kasih dan sayang-Nya dalam pemeliharaan-Nya kepada kita semua. Tauhid kepada Allah, inilah yang membuat kita semua terlahir dalam keadaan yatim-piatu.

Maka dihari kelahiran kita hari ini, 1 Syawal 1441 H, kita semua adalah yatim-piatu, terlahir tanpa Ibu dan Bapak. Oleh karena itu, kita menyerahkan diri kita bukan kepada Ibu dan Bapak, melainkan langsung menyerahkan diri dalam pemeliharaan Allah SWT.

Jika kesadaran akan hal ini telah terpatri dalam diri, maka bayi yang baru lahir dalam keadaan yatim-piatu inilah yang mesti terus dipelihara, sebagaimana mestinya dalam memelihara anak yatim-piatu.

Insya Allah; semoga setelah hari ini, bisa besok atau selama bulan Syawal tahun ini, bayi yang baru saja lahir itu memerlukan tambahan gizi berupa puasa Syawal 6 hari. Yang jika diberikan kepada bayi tersebut; insya Allah akan memiliki daya tahan untuk menjaga imunitas jiwa hingga 1 tahun berikutnya.

Tentu saja, bulan Ramadhan hanyalah proses berlatih, dan 11 bulan berikutnya adalah “puasa” yang sesungguhnya.

Semoga Allah SWT. senantiasa memelihara, membimbing kita semua dengan kasih dan sayang-Nya, hingga kembali bertemu dengan bulan Ramadhan pada tahun berakutnya masih dalam keadaan yang suci. Jika hal ini mampu untuk kita lakukan, tentunya kita hanya mampu jika Allah menghendakinya. Insya Allah kualitas ibadah Ramadhan kita pada tahun berikutnya akan lebih baik. Dengan demikian, kita akan kembali terlahir sebagai bayi baru yang lebih sehat, lebih kuat, dalam pemiharaan Allah SWT sebagai yatim-piatu.

Itulah kira-kira salah satu lapisan makna yang dijelaskan Allah dalam surah Adh-Dhuha. Bukankah Al-Quran itu memiliki lapisan makna, sebagaimana makna “Anzala” bisa diartikan sebagai proses gradasi lapisan makna, tidak mesti diartikan turun. Akan tetapi, lapisan-lapisan makna yang muncul dalam dada Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bissawab.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas