Bangun Indonesia: Gaya Kepemimpinan dalam Menghadapi Segala Macam Krisis

Oleh : Rafani Tuahuns (Penulis adalah Founder Satu Asa dan Dept. Advokasi PB PII)

Dewasa ini kita dihadapkan dengan problem negeri yang cukup pelik. Virus Covid-19 telah mewabah di semua benua dan menjadikan banyak negara kelimpungan mencari solusi. Amerika, Cina, Italia, dan beberapa negara lainnya yang selama ini disebut negara maju, justru menjadi negara yang paling banyak menelan korban. Bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintah merilis data terbaru, Jumat, 15 Mei 2020, kasus positif Covid-19 mencapai 16.496, sembuh 3803 jiwa, dan meninggal dunia 1070 jiwa. Angka-angka ini cukup memprihatinkan. Namun lebih memprihatikankan lagi, jika kita mengingat rekaman gaya komunikasi para pejabat nagara yang bertugas di jajaran kementerian. Sejak Februari hingga awal Maret, saat negera-negara lain tengah sibuk menghadapi persebaran virus, di Indonesia para pejabat yang terhormat itu justru memperlihatkan gaya komunikasi yang nyeleneh dan menganggap remeh.

Sejak awal Maret hingga pertengahan juni ini, angka positif dan meninggal dunia semakin meningkat, dan bisa jadi akan semakin bertambah dan jauh lebih membahayakan. Saat sudah banyak korban berjatuhan, barulah pemerintah kelimpungan. Belum lagi, masih saja terlihat arah komunikasi para pejabat yang simpang siur, padahal kondisi negara semakin mengkhawatirkan.

Catatan ini bukan untuk menjatuhkan pemerintah, tapi ini konsekuensi logis dari pilihan berdemokrasi. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, maka sudah seharusnya rakyat bersuara untuk kepentingan bangsanya.

Prolog ini sekadar menggambarkan bahwa unsur kepemimpinan sangatlah penting bagi suatu entitas dalam menghadapi krisis. Pada kondisi pelik sekalipun, pemimpin hadir sebagai figur yang mampu membawa rakyatnya bersama-sama melawan segala keterpurukan. Lantas seperti apa gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi segala bentuk krisis?

Pertanyaan ini menarik untuk dikaji bersama. Sebab kepemimpinan yang secara tangguh mampu menghadapi krisis dan konflik lah yang lahir sebagai pemimpin sejati. Paling tidak ada tiga kriteria dasar yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin. 

Pertama, Kepemimpinan Karismatik. Gaya kepemimpinan ini lahir dari figur yang kuat secara kedirian. Dalam kepribadiannya ada konsistensi yang kokoh. Pemimpin jika sudah tidak konsisten, akan dianggap sepeleh oleh rakyatnya sendiri. Bagaimana mungkin pemimpin ditaati jika tidak punya komitmen yang kuat terhadap dirinya sendiri. 

Teringat satu bait sejarah yang ditorehkan oleh pemimpin Islam Umar Bin Abdul Aziz. Saat ia hendak dilantik sebagai khalifah ketika itu, ia menyebutkan satu kalimat inspiratif dalam pidato pertamanya, innii akhaafunnar, saya takut kepada neraka. Narasi ketakutan kepada neraka itulah yang membuat Umar Bin Abdul Aziz konsisten menjalankan tugas dan amanahnya. Bahkan, ia menorehkan tinta emas sejarah, dalam wilayah kepemimpinannya, tidak lagi ditemukan orang-orang yang berhak menerima zakat. Itu artinya, kesejahteraan telah terwujud di tengah rakyat.

Kedua, Kepemimpinan visioner. Gaya kepemimpinan ini sangat prinsip dalam mempin sebuah entitas. Tatkala pemimpin tidak punya visi yang jelas, maka arah gerak pembangunan pun tidak jelas. Pasti semua pemimpin punya visi, tapi apakah visi itu mampu menggerakan? Hanya visi yang memiliki subtansi dan energi yang kuat lah yang akan dengan sukarela rakyat mengikutinya. 

Dalam perang khandaq, tatkala Rasulullah SAW bersama para sahabat menggali parit, didapati batu besar, saat Baginda memukul batu besar itu dengan alat pemukul, keluar percikan api, lalu Rasulullah SAW berkata, Latuftahannaruum, Latuftahanna konstaniyyah, kita akan menaklukkan kota Roma, kita akan menaklukkan Konstaninopel. Lalu seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mana yang lebih dahulu ditaklukkan, Konstantinopel ataukah Roma?” Rasulullah SAW menjawab, “Kotanya Heraklius (Kontantinopel). Sebaik baik panglima adalah panglima perang saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang mengikutinya.” Begitulah sabda Rasulullah SAW menyemangati para sahabat dengan visi yang kuat. Riwayat ini menjadi misi besar dalam kepemimpinan umat Islam selanjutnya.

Kepemimpinan Islam silih berganti, kekhalifaan juga ikut berganti, para pemimpin Islam sejak khulafaurrasyidin ingin menjadi yang terbaik membuktikan sabda Rasulullah SAW untuk menaklukkan Konstantinopel.

Barulah tujuh abad kemudian, 29 Mei 1453 visi besar itu terwujud. Muhammad al-Fatih bersama pasukan tempurnya, berhasil menaklukkan benteng Konstantinopel. Riwayat ini membuktikan kekuatan visi dari figur pemimpin sangat menentukan raihan kemenangan.

Apakah di Indonesia ada pemimpin yang memiliki visi dan konsistensi yang kuat?

Presiden Soeharto salah satu pemimpin negeri yang memiliki visi yang kuat itu. Terlepas dari segala kritik terhadap kepemimpinannya, sejarah Indonesia mengakui, 32 tahun menjadi presiden dengan visi pembangunannya. Soeharto berhasil melakukan pembangunan besar, dan layak menjadi figur pemimpin yang memiliki visi besar. Perihal itu juga dibuktikan dengan raihan gelar Bapak Pembangunan Nasional. 

Ketiga, Kepemimpinan kolektif. Gaya kepemimpinan ini membawa semangat kebersamaan yang kuat. kebersamaa dalam elite sircle nya, kebersamaan bersama rakyat. Ini kunci penting menjawab tantang krisis. Hal pertama yang membahayakan seorang pemimpin adalah elite sircle, atau kelompok elit yang berada di sekeliling pemimpin. Seringkali kita mendapati banyak pemimpin negeri yang para menterinya tidak solid bahkan berbelok arah. Meskipun visinya kuat, namun tatkala kelompok elitnya tidak solid, maka tinggal menunggu waktu rusaknya kepemimpinan.

Hal kedua yang membahayakan seorang pemimpin, adalah tidak ikut merasakan kebersamaan rakyat. Tidak mesti pencitraan dengan banyak blusukan, tapi memastikan kondisi rakyat tak kelaparan, memastikan pendiritaan rakyat dapat terbayar. Kolektif bersama rakyat ini penting, sebagai syarat utama lahirnya kepemimpinan baru. 

Sejarah Islam telah mencatat kisah inspriatif kepemimpinan Umar bin Khattab ra, saat kondisi paceklik, hujan lama tak turun, lahan jadi tandus, tanaman warga kering, hewan peliharaan banyak yang mati. Umar mengeluarkan kebijakan setiap hari memotong unta agar dagingnya dinikmati warga, sedangkan ia memilih berpuasa. 

Bahkan, untuk memastikan rakyatnya tidak kelaparan, ia turun ke kampung-kampung di tengah malam untuk melihat langsung warganya. Dalam satu riwayat yang sahih, Umar mendapati seorang janda miskin yang menangis karena anaknya kelaparan. Umar merasa bersalah dan kembali ke Madinah mengambil gandum. Dalam perjalannnya dari Madinah ke rumah perempuan janda itu, Umar memikul sendiri gandumnya, seorang sahabat bernama Aslam meminta untuk memikul gandum itu, umar lantas berkata, “Wahai Aslam, apakah engkau mau menjerumuskan aku ke dalam neraka? Apakah engkau kira setelah engkau menggantikan aku memikul karung ini engkau akan memikul bebanku nanti di akhirat kelak?” kalimat umar ini memiliki semangat kolektifitas yang kuat untuk rakyatnya. Semangat kolektifitas yang terbangun atas dasar nilai-nilai wahyu.

Karismatik, visioner dan kolektif, menjadi tiga rumus utama menghadirkan kepemimpinan baru. Jarang ditemukan lagi, pemimpin yang memiliki karisma yang kuat dengan konsistensi tinggi. Lama tak ditemukan lagi, pemimpin yang komit terhadap visinya.

Mungkinkan kepemimpinan kolektif bersama rakyat itu hadir kembali?

Jawaban optimis tentu harus dipegang erat. Kondisi negeri yang tengah dilanda pandemi seperti ini, harusnya figur kepemimpinan itu hadir dengan gagah. Jika realitasnya tak sesuai, maka tak perlu berkerut kening, harapan selalu ada bagi generasi optimis.

Ketika generasi lama sudah usang, maka harapan baru selalu ada bagi generasi pemimpin baru. Maka dari itu, rumus kepemimpinan itu harus menjadi gerakan bagi anak-anak muda saat ini, mengasah kepemimpinan, mengokohkan visi besar, meneguhkan konsistensi, dan menjaga spirit kolektifitas untuk menjemput momentum Indonesia Jaya 2045. (Fn)

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas