Hubungan Masker Kain dan Niqab Selama Pandemi Covid-19

Oleh : Gusti Rian Saputra

Penggunaan masker meningkat tajam ketika pandemi COVID-19 melanda. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mengimpor masker medis sebanyak 2.806,85 ton atau US$ 77,77 juta sepanjang Januari-Mei 2020. Sebesar 19,56% impor masker medis terjadi pada Januari-Februari 2020, lalu 80,43% pada Maret-Mei.[1] Hal ini membuktikan betapa banyak kebutuhan masker medis dalam negeri yang diperlukan dan produksi masker medis dalam negeri yang tidak sesuai dengan permintaan pasar.


Produksi masal dilakukan guna memenuhi permintaan pasar. Permintaan tersebut wajar terjadi karena kebutuhan masker medis semakin pesat seiring dengan bertambah banyaknya kasus COVID-19 di Indonesia. Untuk mengantisipasi terjadinya defisit masker medis atau sekali pakai, pemerintah memproduksi masker non medis dengan mempertimbangkan keefektifan kegunaanya, tentunya tetap berpedoman pada himbauan yang dikeluarkan World Health Organization (WHO).


Masker atau alat pelindung pernafasan merupakan alat yang digunakan untuk menutup mulut dan hidung dengan bahan yang dapat menyaring masuknya debu atau uap. Proses penyaringan terjadi pada saat partikel berada di udara kemudian dihirup melalui mekanisme penangkapan dan pengendapan partikel oleh serat pembentuk filter (Moeljosoedarmo dalam Purwanti: 2014).[2] Sehingga dapat mencegah kemungkinan terjadinya gangguan sistem pernafasan akibat terpapar udara yang kadar debunya tinggi. Oleh karena itu penggunaan masker ditengah wabah COVID-19 sangat dianjurkan untuk memutus mata rantai penyebaran melalui udara yang memaksa masuk kedalam sistem pernapasan.


Masker merupakan salah satu upaya untuk memelihara kesehatan tubuh, terutama paru-paru. Masker berperan sebagai alat pelindung diri terhadap bahaya polutan atau udara kotor. Sebagaimana masker berfungsi untuk melindungi debu atau partikel yang masuk kedalam pernapasan, dapat berupa kain dengan ukuran tertentu (A.M. Sugend Budiono, dkk., 2003:332). [3]


Apabila pertikel yang berukuran sekitar 5 mikron, bukan hanya iritasi yang menyebabkan mata pedih serta batuk-batuk saja yang dapat terjadi, tetapi dikhawatirkan dapat menyebabkan pneumoconiosis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh timbunan partikel di jaringan paru. Gangguan pernafasan berupa sesak nafas, batuk-batuk disertai produksi dahak yang banyak merupakan sebagian gejala yang tampak. Namun demikian juga merupakan faktor yang mempermudah timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti influenza, bronchitis, tuberkolosis, asma bronkhiale (Anies: 2015)[4] dan COVID-19.


Berdasarkan penjabaran definsi masker diatas, pada hakikatnya Islam telah berinisiasi dalam menanggulangi penyebaran penyakit menular melalui pernafasan. Serupa tapi tak sama. Anjuran penggunaan penutup muka berbahan kain atau biasa disebut niqab telah lama dibudayakan. Penulis menyebutnya budaya untuk menghindari konflik perbedaan perspektif mengenai hukum memakai niqab. Dimana sebagian ulama ada yang mewajibkan, membolehkan dan memakruhkan. Penulis tidak ingin membahas secara spesifik perbedaan perspektif atau penafsiran dari para ulama mengenai ketentuan niqab.


Niqab atau cadar secara universal bermakna sebagai penutup aurat bagian muka bagi seorang muslimah. Biasanya terbuat dari bahan kain yang disesuaikan dengan subjek, budaya dan trend masing-masing daerah

.
Terdapat keterkaitan antara masker kain dan niqab bagi perempuan muslimah. Baik dari segi fungsional maupun substansi. Secara fungsional masker kain dan niqab memiliki kesamaan fungsi yakni untuk menutupi sebagian muka yang terdiri dari dagu, mulut hingga hidung pengguna. Secara substansi, masker kain pada umumnya digunakan untuk mengindari polutan akibat udara kotor (tercemar). Sedang niqab digunakan untuk menutupi wajah agar terhindar dari fitnah atas dasar syariat agama. Keduanya sama-sama bertujuan untuk menutupi wajah atau sebagian wajah.


Tidak hanya terbatas pada perempuan muslimah saja. Secara filosofis pemaknaan masker bagi seorang muslim dapat berupa alat yang digunakan untuk melindungi diri dari berbagai gangguan penyakit. Maka alat bagi seorang muslim untuk melindungi diri telah diperintahkan oleh agama Islam, seperti: pertama, anjuran untuk menjaga wudhu sebagai bentuk langkah antisipatif menjaga kebersihan tubuh. Kedua, tidak bersentuhan pada sembarang orang dengan memperhatikan ketentuan mahram atau menjaga jarak kepada yang bukan mahram. Hanya saja pemaknaan kedua terbatas terhadap beberapa kelompok saja, untuk itu dalam mengoptimalkan langkah pencegahan perlu diperluas untuk tetap melakukan physical distancing kepada siapapun.

Daftar Pustaka


[1] Data Badan Pusat Statistik
[2] Muthia, A dan Hendrawan, A. “Perencanaan Masker Sebagai Alat Pelindung Diri Bagi Pengendara Sepeda Motor Wanita”. Jurnal ATRAT. Vol. 5. No 3. Hal. 2017. hlm.2.
[3] Ibid. hlm 2
[4] Ibid. hlm 3

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas