Broken Home dan Dampak Psikologis Pada Anak

Oleh: Bayu Akbar Pratama

Broken home adalah gabungan dua kata sebagai istilah yang memiliki arti khusus. Broken yang kata dasarnya broke adalah “rusak”, sementara home sendiri artinya “rumah”. Dalam kajian kekeluargaan (family studies), terma broken home merupakan gambaran atas ketidakharmonisan dalam keluarga sehingga mengakibatkan perceraian. Broken home adalah kondisi di mana orang tua gagal mewujudkan keutuhan keluarga. Keadaan ini dapat menyebabkan perhatian terhadap anak menjadi tidak utuh. Karena sang anak harus memilih akan tinggal dengan siapa, ayah atau ibunyakah, pasca perceraian diputuskan. Pada titik ini, broken home dapat menjadi pemantik negatif terhadap perkembangan psikologi anak.

Broken home sebagai peristiwa bisa disebabkan banyak faktor. Misalnya, faktor ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan dan lain sebagainya. Sebab kedua orang tua memiliki peran penting dalam mendidik dan mengarahkan perkembangan anak-anaknnya. Hal ini perlu disadari, agar sang anak tidak terjerumus dalam praktik-praktik pergaulan yang salah.

Peristiwa negatif yang terjadi pada kedua orang tua akan berdampak negatif pula kepada perkembangan piskologi anak-anaknya. Secara otomatis, anak-anak yang menjadi korban broken home akan merasa bahwa kasih saying yang ia dapatkan tidak sepenuhnya utuh. Belum lagi faktor eksternal di mana anak ini hidup, lingkungan atau sekolah misalnya, juga turut memperbesar perasaan itu.

Kondisi keluarga (rumah tangga) sangat berpengaruh pada anak. Kondisi keluarga yang harmonis tentunya akan berpengaruh positif pada perkembangan psikologis anak. Berbanding terbalik jika kondisi keluarga mengalami perpecahan atau broken home.

Tentu saja dampak negatif akan sangat dirasakan dalam perkembangan anak.

Dampak yang dapat terjadi pada anak jika mereka terjebak dalam kondisi broken home berikut penjelasannya.

(1) Kurangnya Perhatian (Kasih Sayang)

Saat kondisi tidak lagi harmonis (bahagia) antara suami istri maka tentu saja akan memuculkan rasa egois dalam diri masing-masing mana yang lebih di utamakan. Jika tidak segera diatasi maka tentu saja anak menjadi korban yang paling utama. Anak akan mengalami kurangnya kasih sayang karena perhatian orang tua yang berkurang.

(2) Gampang Mendapat Pengaruh Buruk Dari Lingkungan.

Ketika kondisi dalam rumah dan keluarga menjadi tidak nyaman, maka anak akan berusaha untuk mencari tempat lainnya yang dijadikan sebagai tempat menghibur dirinnya. Saat kondisi seperti ini, maka teman-teman sepermainannya akan menjadi tujuan sebagai pengganti keluarga. Disini jika lingkungannya baik itu pertemanannya kurang baik, maka tentu saja anak akan sangat mudah terpengaruh untuk melakukan perilaku yang menyimpang sebagai pelarian untuk mendapatkan suatu kebahagiaan.

(3) Rentan Mengalami gangguan Psikis

Kondisi yang selalu berada di dalam tekanan, maka akan membuat pengaruh yang cukup besar dalam kondisi anak. Sehingga tak heran jika anak-anak yang mengalami broken home akan kerap mengalami gangguan-gangguan psikologis, mulai dari rasa ketakutan, selalu merasa serba salah, rasa ketakutan, kecemasan, selalu dirundung sedih, menyendiri, dan lainnya. Jika dibiarkan terus menerus maka gangguan ini akan berdampak pada lingkungan sosial anak itu sendiri.

(4) Membenci Kedua Orang Tuanya

Kondisi mental yang masih sangat labil. Dapat membuat anak-anak yang berada dalam lingkungan broken home dapat membenci kedua orang tuanya. Mereka belum memahami tentang hal yan terjadi dalam keluarga, bahkan belum dapat menerima kondisi yang sebenarnya terjadi. Sehingga mereka akan menganggap jika semua hal yang terjadi merupakan kesalahan dari salah satu ataupun kedua orang tuannya.

(5) Permasalahan Pada Moral

Pada saat anak dalam masa perkembangannya, berada di dalam kondisi pertengkaran-pertengkaran dengan orang tua secara tidak langsung membentuk kepribadian dan karakter anak menjadi keras dan kasar. Anak juga akan terbiasa untuk melakukan tindakan-tindakan seperti yang ia lihat pada orang tuanya seperti bertengkar, berprilaku kasar, emosional, dan lainnya. Sikap ini lah yang nantinya akan diterapkan dalam lingkungan pertemanannya.

(6) Kedangkalan Spritual (Keagamaan)

Penananaman agama tentu harus dilakukan sejak anak-anak masih dalam usia dini. Namun sangat jarang terjadi pada kondisi keluarga yang broken home. Orang tua tidak dapat menjalankan peran sebagimana seharusnya. Sehingga anak-anak tidak dibekali dengan pondasi agama yang kuat sehingga menyebabkannya tidak adannya pedoman hidup yang dapat mengarahkannya.

(7) Potensi Penyakit Kejiwaan

Menurut penelitian pada London Institue of Psychiarty menjelaskan jika anak yang berada didalam kondisi kelurga kurang harmonis maka akan berpotensi besar untuk mengidap gangguan-gangguan psikologis semisal skizofrenia.

Komunikasi yang tidak baik antar anggota kelurga dan yang terutama pasangan suami istri. Ini sering kali sebagai pemicu utama dalam keluarga broken home. Oleh sebab itu sangat lah penting rasa saling percaya antar anggota keluarga, maupun suami istri, saling terbuka antar satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lainnya agar menjadi komunikasi yang efektif. Kehadiran dan kasih sayang yang konsisten pada anak seperti sedia kala dapat membantu anak lebih merasa berharga.

Share this:

Broken Home dan Dampak Psikologis Pada Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas