Bagian 1: Membangun Orientasi Pernikahan ala Kosmologi Perempuan

Oleh : BintusSaniy

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Allohumma shalli’alaa Sayyidinaa Muhammad wa’alaa aalii Sayyidinaa Muhammad.

Lima tingkatan perkawinan Alqunawi (murid Ibn Al Arabi) dimaksudkan untuk mensistemkan perkawinan seluruh benda-benda yang digambarkan oleh Ibn Al Arabi.

Perkawinan Manusia secara khusus, dalam dimensi perkawinan AlQunawi diletakan dalam urutan ke 5. Akan tetapi disebutkan bahwa perkawinan manusia bukanlah tingkatan. Tapi ia adalah perkawinan yang mencakup keseluruhan dimensi perkawinan.

Artinya dari keseluruhan makhluk yang aktif melakukan perkawinan sebagai kodratnya, Perkawinan manusia lah yang mampu menghimpun semua dimensi. Gambaran kesempurnaan perkawinan ada dalam perkawinan manusia.

Sebagai satu realitas memang demikian, baik disadari maupun tidak oleh pasangan yang menikah, dalam pernikahannya terdapat perbendaharaan tersembunyi berupa perkawinan tak terlihat yang maha luas sebagaimana pada tulisan sebelumnya kami gambarkan.

Disinilah peran manusia diperlukan. Karena perbendaharaan itu selamanya akan menjadi harta yang tak diketahui bahkan oleh pemiliknya sekalipun.

Jika perkawinan adalah tingkatan untuk mengetahui Nama dan Sifat Tuhan yang tersembunyi, maka perjalanan pernikahan adalah perjalanan penyempurnaan pengetahuan manusia. Karena ‘pintu’ nya terdapat dalam rahim perkawinan yang hanya dapat ditembus dalam bingkai pernikahan yang suci.

Peranan dan upaya ini agaknya bukan sesuatu yang mudah, perkawinan dalam pernikahan suci saja belum tentu menyingkap dengan baik batin nya Perkawinan.

Dari sini, barangkali struktur kosmologi dibutuhkan untuk membangun orientasi-orientasi dalam pernikahan terkait apa-apa yang hendak disingkap dari lahirnya perkawinan. Setidak-tidaknya, dapat menjadi sebatang lilin dalam perjalanan kedua insan dalam menyelami lautan ketidaktahuan untuk mencari cahaya yang pendarnya akan menyirnakan kegelapan fikir dan jiwa manusia.
Kosmologi perempuan menjadi hal yang berperan penting, karena darinya, makna batin rahim yang begitu dalam menjadi titik awal membangun orientasi dalam pernikahan suci.

Sekali lagi, karena melalui rahim segala buah cinta dilahirkan. Maka, orientasi-orientasi yang setidaknya coba kita bangun bersama dan berawal dari makna batin rahim pula, secara tidak langsung adalah menyiapkan apa-apa yang akan dilahirkan melalui rahim perempuan itu (Anak).

Seperti dalam tulisan sebelumnya, anak adalah hasil dari pengalihan perhatian Tuhan dalam menurunkan Asma dan Sifat Nya. Semakin banyak perhatian Tuhan, semakin banyak Asma dan Sifat yang diturunkan. Semakin banyak seorang anak mendapat pancaran Asma dan Sifat Tuhan maka semakin sempurnalah jiwanya. Jiwa-jiwa yang pantas menyandang “Khalifah / Wakil Tuhan di Bumi” adalah jiwa yang paling banyak menyandang perwujudan Nama dan Sifat Tuhan dalam dirinya.

Setidaknya, melalui struktur ini, kita mencoba membangun orientasi demi lahirnya generasi penerus umat yang lebih baik.

Wallohu’alam bi shawab.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas