Anarkisme dalam Epistemologi

Oleh: Ahmad Ali Abdillah (Sang Musafir Kematian)

Seberapa logisnya argumentasi anda jika menilai suatu pernyataan dengan menggunakan basis rujukan konsep anda, tanpa mendudukkan basis konsepsi orang yang anda nilai itu adalah suatu anarkisme.

Mungkin penilaian kita benar jika merujuk kepada konsepsi kita sendiri, sebagaimana kita menganggap baik membaca buku karena punya konsep bahwa membaca buku itu baik. Namun kita gunakan penilaian itu untuk menilai mereka yang belum punya konsep tentang baca buku itu baik, itu sangatlah tidak apik.

Hal yang sama ketika kita melihat turis perempuan di Pantai Kuta Bali yang berjemur hanya menggunakan bikini dan bra, lalu anda menilai mereka itu dosa karena tidak syar’i (tidak menutup aurat). Padahal mereka tidak memiliki dan menganut konsepsi pemahaman tentang dosa dan aurat. Nah, tentu jika orang Islam melakukan itu di tempat umum, tentu rumit karena Islam menuntut kita dengan konsep hijab.

Penilaian kita berlaku untuk diri kita sendiri sesuai rujukan konsep, tidak bisa digunakan menilai orang lain. Sekiranya pun harus melakukan penilaian terhadap orang, maka harus sesuai dengan basis konsepsinya.

Nah masalah kita hari ini karena hijab pengetahuan, banyak menilai tanpa memahami struktur konsepsi-pengetahuan yang melandasi perkataan dan perbuatan seseorang. Kenapa itu terjadi? Karena semangat kita menilai tinggi sementara kita lemah dalam memahami. Dan memahami ini butuh komunikasi terbuka.

Ini poin penting yang mutlak meski di ketahui dan sekaligus menjadi tanda-identitas non sertifikasi bahwa orang sudah tuntas epistemologi bukan seberapa banyak dia baca buku dan duduk dalam majelis ilmu, dalam pandangan al-faqir. (Fn)

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas