Mengenal Aliran Positivisme dalam Filsafat

Oleh : Afian Dwi Prasetyo

Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan.

Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.

Secara etimologi (bahasa), positivisme berasal dari kata positive yang dalam maknanya berarti sesuatu yang benar-benar terjadi. Bisa dikatakan bahwa apa saja yang dialami merupakan realitas yang sesungguhnya. Secara terminologi positivisme berarti suatu paham yang dalam pencapaian kebenarannya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi. Segala hal di luar itu, sama sekali tidak dikaji dalam positivisme.

Istilah positivisme digunakan pertama kali oleh Saint Simon (sekitar 1825). Positivisme berakar pada empirisme, prinsip filosofis tentang positivisme dikembangkan pertama kali oleh empiris Inggris Francis Bacon (sekitar 1600). Tesis positivisme adalah: bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta- fakta sejarah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek di belakang fakta, menolak segala penggunaan metode diluar yang digunakan untuk menelaah fakta.

Aliran positivisme ini kemudian dikembangkan oleh Auguste Comte. Menurutnya postivisme merupakan kajian ilmiah dan suatu tingkatan dalam perkembangan pikiran manusia. Pikiran berkembang melalui tahap-tahap teologis, metafisika, dan positivis, yang dibedakan terutama oleh metode-metode eksplanasinya. Pada tahap teologis, berbicara dalam konteks entitas supranatural seperti roh-roh dan Tuhan. Pada tahap metafisika, eksplanasi dijelaskan dalam konsep yang abstrak, kekuatan-kekuatan personifikasi dalam alam seperti hukum moral. Pada tahap positivis eksplanasi dinyatakan dalam konteks hukum-hukum yang menghubungkan fakta satu sama lain. Logika positivis menjelaskan setiap fenomena yang menurut hukum gejala itu adalah unsurnya.

Orang tidak mugkin dapat menolak kenyataan bahwa filsafat positivisme Auguste Comte mempunyai arti dan tempat tersendiri hanya di bidang filsafat Barat, sedang pengaruhnya tersebar luas, tidak hanya dibidang ilmu filsafat, melainkan juga dibidang atau cabang ilmu pengetahuan lain. Sebutan “positivisme” bagi suatu aliran filsafat muncul kembali di abad ke-20 dengan hadirnya aliran filsafat positivisme abad ke-19 dan filsafat positivisme abad ke-20 (Wibisono, 1983 : 36).

Auguste Comte telah menunjukkan bahwa didalam perkembangan jiwa manusia, baik secara individual maupun secara universal terdapat suatu kemajuan. Kemajuan itu akan dicapai saat perkembangan datang yang disebut positif. Comte berpendapat bahwa “hukum” perkembangan itu dapat dijabarkan dari kecenderungan umat manusia yang selalu berusaha agar dirinya dapat terus- menerus dapat memperbaiki sifat dan keadaannya. Apa yang dimaksud dengan kemajuan disini, di samping kemajuan dalam kehidupan bermasyarakat, juga dalam kemajuan ilmu pengetahuan atau”scientific knowledge”.

Filsafat positivistik Auguste Comte hadir dalam studinya tentang sejarah perkembangan alam pikiran manusia. Matematika bukan ilmu, melainkan alat berfikir logic. Comte terkenal dengan tahap-tahap sejarah perkembangan alam fikir manusia, yaitu: teologi, metafisik, dan positif. Pada jenjang teologi, manusia memandang bahwa segala sesuatu itu hidup dengan kemauan dan kehidupan seperti dirinya. Jenjang teologik ini dibedakan menjadi tiga tahap, yaitu (Muhadjir, 2001 : 70).

a. Animism atau fetishisme. Memandang bahwa setiap benda itu memiliki

kemauannya sendiri.

b. Polytheisme. Memandang sejumlah dewa memiliki menampilkan kemauannya

pada sejumlah obyek.

c. Monotheisme. Memandang bahwa ada satu Tuhan yang menampilkan

kemauannya pada beragam objek

Meski Comte sendiri seorang ahli matematika, tetapi Comte memandang

bahwa matematika bukan ilmu, hanya alat berfikir logic dan matematika memang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena, tetapi dalam praktik, fenomena memang lebih kompleks (Wryani Fajar Riyanto, 2011 : 413).

Adapun aliran positivisme ini muncul karena beberapa sebab yang melatar belakanginya. Pertama, reaksi terhadap kepercayaan akan apa yang disebut sebagai kemajuan (progres) abad

ke-19. Kedua, timbul reaksi terhadap pengertian mengenai perkembangan yang telah menjadi

mitos yang mencakup segala-galanya.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas