Selamat Jalan Kak Regar

Saat membuka beranda Facebook, kudapati banyak postingan belasungkawa untuk Kak Ikhwanuddin Siregar.

Dan ternyata, beliau telah berpulang ke Rahmatullah.

Alhasil, meski akhir akhir ini saya takut menulis karena harus bertanggung jawab secara ilmiah, namun tak kuasa jiwa tak bercerita tentangnya.

Saya sering memanggilnya Kak Regar. Bertemu di Rausyanfikr Institute, Yogyakarta, tahun 2014 silam. Beliau termasuk santri senior saat itu.

Segaimana kita tau, setiap manusia pasti akan mati. Tapi sebelum mati, kita mengukir sejarah dalam jiwa-memori tiap orang yang kita jumpai. Perkenalan saya yang singkat dengan kak Regar adalah saat satu kamar dengan beliau.

Meski satu kamar, sedikitpun tidak ada kesan diskusi, obrolan dan candaan dengan beliau. Hanya ada dua kesan, yang pertama membuat saya meneteskan air mata dan yang kedua membuatnya tersenyum.

Kesan yang membuatku meneteskan air mata adalah saat saya baru belajar pengkondisian ruhani. Saat itu saya amalkan program sholat malam 40 hari dan puasa. Adapun dia, puasa dan amalan Jausyan Kabir (1001 Asmaaul Husna ). Dikala magrib menjelang buka puasa kami berdua sudah berada di dapur. Bersama sama mempersiapkan menu buka puasa. Yaitu sayur tanpa nasi (Hanya saja pilihan jenis sayur kami berbeda jenis, saat itu dia sering memasak brokoli berkaitan dengan penyakit yang di derita). Di dapur kami tidak banyak bicara, kecuali Saya pasti akan bertanya “Kak Regar, apa ini sudah gelap?” Jawabanya simple, kalau gelap, dijawab “udah”. Kalau belum, dia akan menjawab “belum”.

Di kamar saya tidak ada kesan diskusi, obrolan dan candaan dengan Kak Regar kecuali saat saling bangun membangunkan di di sepertiga malam. Terkadang bisa sampai jam 3 kurang atau jam 3. Ketika saya telat bangun, kadang saya dapati dia sudah membaca Jausyan Kabir. Malah, terkadang bacaannya yang membuat saya terbangun. Di waktu lain, ketika saya sudah bangun, dia masih tertidur. Hingga saya harus membangunkan nya sambil berkata “Kak bangun! Mana bacaan doa Jausyan nya?” Tanya saya. Diapun langsung bergegas bangun.

Kesan lain dengan beliau adalah saat saya mengenderai sepeda ontel ke kampus UIN Sunan Kalijaga. Waktu itu saya mengalami kecelakaan tepat setelah kampus Sanata Dharma. Pelek roda sepeda saya bengkok dan tidak ada bengkel sepeda yang saya dapati. Alhasil, saya menelpon beliau agar membantu. Beliau minta alamat keberadaanku dan meminta saya menunggunya. Beliau pun datang bersama temanku, Kak Gafur dengan membawa mobil jenazah. Dari jauh saya melihat mobil jenazah milik Rausyanfikr datang. Kemudian, Kak Regar mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil sambil tersenyum melihat saya. Akhurnya sepeda saya diletakkan di atas keranda jenazah untuk di bawa ke bengkel. Itu adalah salah satu bentuk sifat kesetiakawanan dia dari banyaknya kesetikawanan yang dia miliki.

Beliau adalah orang yang sabar. Kadang di malam hari beliau cepat tertidur baik di ruang kajian-perpus ataupun di kamar. Apabila kecapaian, terkadang saat beliau masih tidur di tengah malam anak Ustadz yaitu Rey, datang membangunkan Kak Regar. Hanya untuk di temani menggambar, (terkadang hal itu terjadi jam 11 atau 12 lebih). Beliau selalu menanggapinya dengan penuh sabar dan kasih sayang. Jika beliau mampu, beliau akan menemani Rey menggambar. Jika tidak, beliau akan berkata”Rey ini udah tengah malam, besok di lanjutin ya”. Dan kadang Rey inging menggambar saat itu juga. Sehingga beliau pun mengalah dan bangun dari tidur nya.

Dan sebagai catatan terakhir kali berjumpa dengan beliau, setelah sama sama tidak lagi di pondok, kita sama sama membahas soal gerakan sosial berbasis kedaulatan pangan dan kemandirian energi. Beliau sempat menyinggung soal pembangkit listrik tenaga hidro (air) skala mikro (kecil).

Meski singkat mengenal beliau, bagi saya, beliau adalah orang yang baik sangat baik. Terkadang humoris saat bersama kawaan sesama asal Sumatra. Juga tekun dan bertanggung jawab. Beliay juga senang berdiskusi. Belia juga, sebagaimana saya saat itu, sama-sama berjuang untuk pengkondisian ruhani dan Taszkiyatunnafs. Sebuah upaya melepas keterikatan materi. Kini, beliau telah menemukan hakikat keterlepasan dari belenggu materi yaitu kematian.

Secara moral kita berbela sungkawa atas kematian beliau, tapi secara hakikat beliau telah terbebas dari penjara derita hidup, yaitu ikatan materi. Hanya kematian yang dapat mengakhirinya. Sementara, kita semua yang masih hidup justru yang perlu disedihkan karena masaih terikat dan terpenjara oleh materi.

Selamat jalan Kak Regar !

Aku tak bisa menemani, karena jiwa masih terikat raga, hanya sholat dan Al Fatihah yang bisa aku kirimkan. Semoga kelak engkau disambut bahtera kenabian.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas