Pandemi COVID-19: Tauhid, Adil dan Ilmu


Saat ini, dengan keadan dunia yang dilanda pandemi, kita dituntut pandai menempatkan diri. Kita harus waspada agar tidak mencelakai kesehatan diri atau orang lain. Namun juga jangan sampai terlalu gelisah hingga mencelakai kesehatan mental kita. Kita harus yakin bahwa, kita tidak mungkin celaka kecuali atas izin Allah, namun juga harus yakin bahwa, kita diperintah untuk menghindarkan diri dari celaka. Lalu bagaimana kita menempatkan diri? bagaimana kita bersikap?

Memang, kita telah banyak mendengar ceramah, himbauan dan anjuran tentang bagaimana kita harus menyikapi Pandemi COVID-19 ini. Namun, berbeda dengan yang biasa didengar, pendekatan yang akan digunakan merupakan pendekatan baru. Yaitu pendekatan Tauhid, Adil dan Ilmu.

“Tauhid lagi? Kayaknya sama aja deh !” Tunggu dulu! Cermati baik-baik, Karena pendekatan ini jarang ditemui, mudah dipahami dan tidak membosankan. Jika memang ternyata membosankan, cobalah sedikit memaksa diri. Jika ia sulit dipahami, mari berpikir lebih dalam. Jika sudah sering ditemui, maka mengulang itu menguatkan.
Pertama, kita harus meyakini, bahwa tauhid adalah dasar kehidupan seorang muslim, bahkan seharusnya setiap manusia. Seluruh sikap dan tindakan seharusnya didasari Tauhid. Itulah mengapa Tauhid adalah inti ajaran seluruh Nabi. Diantara ajaran Tauhid adalah meyakini bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan segala sesuatu telah diciptakan dengan kadar dan ukuran masing-masing. Manusia memiliki akal yang tidak dimiliki hewan. Itulah kadar manusia. Seekor elang, diberikan mata yang luarbiasa tajam, hingga mangsa berjarak 3 km pun tampak. Itulah kadar mata elang. Kaktus di gurun yang memiliki daun kecil berduri, agar penguapan tidak terlalu banyak. Air yang diciptakan sebagai salah satu sumber utama kehidupan. Itu semua adalah kadarnya masing-masing. Bahkan, Smartphone yang merupakan buatan dari ciptaan Allah (Manusia), dengan segala kelebihan, fungsi dan daya nya, itulah kadarnya. Mudahnya, segala sesuatu memiliki esensi dan sifat bawaan, itulah yang disebut kadar.


Karena itu, filsuf-filsuf Yunani menyebut keadaan seluruh alam yang teratur dan terkawal ini dengan kosmos, artinya keteraturan. Sebab pada asalnya segala sesuatu memiliki kadar dan tempat masing-masing. Jika ditempatkan dengan benar dan sesuai dengan kadarnya maka ia akan teratur dan Indah. Ibarat rumah, yang segala perabotnya teratur rapi, maka akan tampak Indah. Itulah mengapa kata “kosmetik” yang kita kenal, berasal dari kata Kosmos. Karena teratur itu indah.


Jika segala sesuatu ada kadar dan tempatnya, maka kita (manusia) sebagai pengelola bumi, diperintah untuk berbuat adil, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan kadarnya. Kita dilarang bebuat Dzalim. Sebab, dengan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya akan mengakibatkan khaos, bukan kosmos. Kehancuran, bukan keteraturan.


Ketika kita menempatkan diri sebagai hamba dan beribadah kepada Allah maka kita telah berbuat adil, Karena itulah posisi dan tujuan manusia, itulah kadarnya. Berbakti pada orangtua, itu perbuatan yang adil, karena demikian itulah kadar dan posisi orangtua. Ketika kita menjaga hutan untuk supply oksigen makhluk di bumi, maka kita telah berbuat ‘adil karena itulah fungsinya, itulah kadarnya. Ketika kita menggunakan paracetamol untuk mengatasi nyeri, itu perbuatan yang adil, karena itulah fungsinya, itulah kadarnya. Lalu, bagaimana kita bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan tempat dan kadarnya? Tentunya, sebelum bisa menempatkan, kita perlu tahu tempat dan yang ditempatkan. Maka ilmu merupakan kunci untuk mencapai keadilan.
Kita meyakini bahwa bahwa kita harus beribadah kepada Allah atas dasar ilmu yang Allah sampaikan di Al-Qur’an. Kita berbakti pada orangtua atas dasar ilmu yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan kepada kita. Kita menjaga hutan atas dasar ilmu bahwa hutan itu penting bagi kelangsungan hidup di bumi. Kita menggunakan paracetamol untuk mengatasi nyeri pusing atas dasar ilmu medis yang kita ketahui.


Kita meyakini, semua Ilmu itu pada asalnya dari Allah. Ketika manusia mengkaji Al-Qur’an dan Hadits (yang keduanya berasal dari Allah) maka muncullah ilmu Tauhid, ilmu Fiqh, ilmu Akhlaq dan lain-lain. Namun yang sering dilupakan adalah bahwa ilmu biologi, fisika, sosiologi, psikologi, politik, kriminologi dan semua cabang ilmu yang diidentikan dengan nama ilmu “duniawi” juga berasal dari Allah. Sebab, seluruh bahan dan alatnya merupakan ciptaan Allah.


Sebagai contoh, penelitian manusia terhadap makhluk hidup menghasilkan ilmu biologi. Lalu, penelitian yang dikhususkan hanya kepada hewan dan tumbuhan menghasilkan Ilmu zoology dan botany. Penelitian manusia terhadap perilaku dan jiwa manusia menghasilkan ilmu psikologi. Semua objek penlitian adalah ciptaan-Nya. begitupun dalam proses interakasi dan penelitian ini tentu manusia menggunakan mata, telinga dan indera lainya. Selain itu,dalam proses penelitian pasti menggunakan akal pikiran. Semua itu merupakan ciptaan Allah. Maka sejatinya tidak akan pernah ada pertentangan antara Ilmu “Dunia” dan Ilmu “Akhirat”, Ilmu Qauliyyah dan Kauniyyah, ilmu umum dan ilmu Agama atau apapun pembagiannya. Sebab semua ilmu itu seluruhnya bersumber dari satu jua, Allah. Disnilah kita melihat, bagaimana tauhid menjadi dasar kehidupan kita., termasuk dalam urusan Ilmu.

 


Maka, Sebagaimana sikap kita terhadap segala sesuatu, kita harus adil dalam menyikapi Pandemi COVID-19, dan keadilan itu hanya bisa terwujud dengan Ilmu. Ilmu menjadi bekal utama agar kita dapat bersikap adil. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan menempatkannya pada tempatnya, sebagai penyakit, musibah, cobaan, azab, pengingat, kesempatan, dan yang lainnya.


Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan meyakini bahwa semua ini ketentuan Allah, maka pilihan kita hanya bersabar dan bersyukur. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan meyakini bahwa tangan manusia berperan dalam kerusakan dimuka bumi ini, maka ini waktu bagi kita untuk sadar akan kerusakan yang kita perbuat. Besikap adil dalam pandemi ini adalah dengan meyakini bahwa maksiat dan kedzaliman itu mendatangkan azab, maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk bermuhasabah diri, atas maksiat yang diperbuat atau kedzaliman yang didiamkan. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan menyadari bahwa kematian begitu dekat, maka sudah saatnya kembali bertaubat. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah meyakini bahwa kematian hanya di tangan Allah, namun perintah ikhtiar juga harus dijalankan. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan beratwakkal setelah ikhtiar, sebab tidak ada tawakkal tanpa ikhtiar. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan mengiringi Ikhtiar dengan munajat kepada-Nya.


Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan meyakini setelah kesusahan pasti ada kemudahan, sehingga kita selalu punya harapan. Bersikap adil dalam pandemi ini meyakini bahwa Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan juga obatnya. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah meyakini setiap kesakitan yang diderita seorang muslim adalah penghapus dosa baginya. Bersikap adil dalam pendemi ini adalah meyakini bahwa ujian Allah itu mengangkat derajatnya. Bersikap adil dalam pendemi ini adalah dengan membantu manusia yang terkena imbasnya, muslim khususnya. Semua sikap aadil itu berdasar pada ilmu yang Allah sampaikan lewat firman-Nya dan sabda Rasul-Nya.


Namun jangan lupa, ilmu Allah juga berasal dari interaksi kita terhadap ciptaan-Nya. Maka berbuat adil dalam pandemi ini juga adalah dengan “tetap di rumah aja”. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan rutin cuci tangan. Karena kita tahu, tangan adalah salah satu media utama dalam penyebaran. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan tetap melakukan physical distancing, meskipun itu artinya tidak bisa bebas bercengkrama dengan teman kita. Bersikap adil dalam pandemi ini adalah dengan menghindari kerumunan, meskipun itu berarti banyak agenda yang dibatalkan. Bersikap adil dalam pandemi adalah dengan mengggunakan masker karena kita tahu droplet menjadi media penularan. Bersikap adil dalam pandemi adalah dengan melakukan etika batuk dan bersin yang benar. Dengan demikian kita telah menempatkan pandemi ini pada tempatnya.


Bersikap adil dalam pandemi itu bergantung pada ilmu kita. Maka mari bekali diri dengan ilmu dan adil dalam bersikap!

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas