Membaca Buat Bahagia Dunia Akhirat

Oleh: Muhammad Ridho

 

“Kenapa sih perintah pertama Al-Qur’an harus iqra’?” “Kenapa tidak perintah yang lain?” “Apa istimewanya iqra’?” “Apa pentingnya iqra’?” tanya saya.

“Mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, dan mengapa mesti iqra’?” “Why?” “Ada apa dibalik iqra’?” gumam saya dalam hati.

Iya, saya selalu penasaran dengan kata iqra’, kenapa Allah Swt memberi perintah iqra’, memangnya iqra’ itu penting banget ya? Kalau nggak iqra’ begimana, salah? Apakah dengan iqra’ saya langsung cerdas? Iya? Masa sih?

Oke cukup, cukup, capek dengerin kamu nyeloteh Ridho.

Karena pertanyaan saya mengenai iqra’ bejibun, akhirnya saya mencari arti iqra’ di mbah guglee, memang banyak makna iqra’ di mbah guglee, tapi kayaknya ada yang kurang gitu, entah apa yang kurangnya.

Saya lupa kalau di rak buku saya ada buku Pak Quraish Shihab, “Membumikan Al-Qur’an”. Setahu saya di buku ini dijelaskan arti iqra’, pentingnya iqra’ dan manfaat iqra’ bagi saya dan Anda.

Buku “Membumikan Al-Qur’an” ini saya buka, daftar isinya saya kuliti, saya tatap halaman itu sampai bab tentang iqra’ ketemu. Alhamdulillah, nggak ketemu.

Ketemu kok!

Bab tentang iqra’ ada di halaman 167, judulnya “Falsafah Dasar Iqra’”. Judulnya saja sudah menggugah, memang keren. Saya sebenarnya sudah selesai baca buku ini, tapi karena saya itu orangnya pelupa, jadi bukunya ya saya baca lagi.

Apa yang saya dapat dari Bab Falsafah Dasar Iqra’? Iqra’ artinya perintah membaca kata Abi Quraish, kata iqra’ ini istimewa karena ia adalah wahyu pertama yang dikasih Allah ke Rasulullah.

Kenapa perintah membaca ditujukan ke Nabi Muhammad saw? Padahal kita tahu bahwa Nabi Muhammad saw tak bisa baca tulis?

Tuh kan bingung lagi. Sama, saya juga mbak.

Ahlinya pun menjawab, kata Abi Quraish, perintah membaca bukan diarahkan ke Rasulullah saja, tetapi ditujukan untuk seluruh umat manusia.

Sederhananya begini, mulai dari zaman Nabi Muhammad saw, para sahabat, para pengikut, para cicitmu, buyutmu, nenekmu, ibumu, kakakmu sampai ke kamu ya harus membaca.

Ingat ya, untuk semua, kamu, yang membaca tulisan ini juga termasuk. Iya kamu, bukan Babe Cabita mbak.

Jadi perintah membaca itu untuk kita, yang belum bisa membaca, belajarlah membaca. Bagi yang sudah bisa membaca tapi malas baca, ya tetap baca. Bagi yang sanggup membaca dan suka membaca, iya tetap membaca.

Memang arti iqra’ tidak hanya membaca, tapi ada yang lain, seperti, menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui dan sebagainya, tapi kali ini tulisannya saya fokuskan hanya ke perintah membaca.

Lalu apa fungsi dan manfaat membaca? Bapaknya Mbak Najwa Shihab ini menguraikannya lagi, kegiatan membaca itu ialah “Kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi,” kata Abi Quraish di halaman 167.

Itu saja? Ada lagi, membaca adalah awal mula pembangunan peradaban, definisi peradaban cari sendiri ya. Apa lagi? Dengan membaca kamu bisa meninggikan derajat kamu, dan kalau dirimu rajin membaca, kamu bakalan memperoleh ilmu yang banyak.

Untuk tahu lebih lanjut silakan lihat buku Quraish Shihab, “Membumikan Al-Qur’an” halaman 170-171.

Ohhh berarti membaca beneran penting buat saya?

Iyalah, siapa yang nggak mau ilmu yang banyak? Siapa yang tak mau bahagia dunia akhirat? Siapa yang tidak ingin derajatnya tinggi? Siapa yang nggak mau membangun peradaban ala Nabi Muhammad saw? Kalau mau iya ayok membaca, jangan pikirin doi terus kayak dia, hem hem hem.

Masih mau mikir kalau membaca itu nggak penting? Sombong banget ya, dikasih sakit Corona baru tahu rasa kamu. Hahaha…

Tapi beneran loh mbak, kalau mbak masih mengatakan jika membaca tak penting-penting amat, aduh, saya bingung mau jelasin apa lagi, coretan ini sudah usaha maksimal saya, tapi mbak nggak percaya juga? Waduh, waduh, waaah.

Saya ini, nggak bakalan jadi Ridho seperti sekarang kalau tak mau membaca. Ini kisah nyata. Dulu, saya itu orangnya tidak tahu apa-apa, kalau ditanya jawabnya pasti tidak jauh dari kalimat “I don’t know”, sedih loh jadi saya.

Ditanya guru soal matematika, jawabnya nggak tahu, ditanya doi soal hubungan kita, jawabnya ngambang, ditanya pak guru tentang sejarah bapak saya, saya pun tidak tahu. Itulah saya. serba tak tahu.

Misal nih, teman-teman saya cerita soal artis, pemain bola, tentang pemerentah atau apalah, mereka kalau cerita seru banget, sambil ketawa dan nyambung ngobrolnya, lah saya? boro-boro nyambung, topik yang mereka bicarakan aja saya tak tahu.

Jadi kalau mereka diskusi, saya cuma diam doang, menyimak, mendengar, menghayati lalu ke kamar mandi. Tahulah ya saya ngapain disitu.

Betulan, saya hanya bengong, nggak ngapa-ngapain, saya bingung dengan apa yang mereka bicarakan, berusaha paham, tapi otak saya mau konslet jika memahami obrolan mereka.

Tapi saya masih mending, nggak tahu, tidak membaca, namun masih mau mendengarkan. Parahnya, ada yang sudah tak mau membaca, tapi sok tahu lagi, seolah dia yang paling tahu seluk beluk kerak bumi. Yaelah, ini nih, ah sudahlah.

Balik ke cerita saya lagi. Berdasarkan kekurangan saya itulah, akhirnya saya mulai mau membaca buku. Saya capek dikatain mahkluk yang serba tak tahu, sekali-sekali saya yang paling tahu kan keren, kayak Zakir Naik itu, Al-Qur’an dia tahu, injil dia tahu dan istrinya pun ia sangat tahu.

Allah SWT akhirnya mengambulkan niat membaca saya, waktu itu, kelas 1 sekolah menengah atas, saya ketemu buku menarik di perpustakaan sekolah. Memang tumben sekali seorang Ridho ke perpus, entah jin apa yang merasukinya.

Jin baik itu mengarahkan saya ke rak buku paling pojok dekat ceue cantik, bisa aja, eh disana ternyata nggak hanya ada ceue cantik tadi, disitu juga ada dia, iya, buku yang mengubah hidup pria ngenes seperti saya.

Saya lupa judul bukunya apa, yang saya ingat, sampul bukunya berwarna coklat, isinya tentang motivasi, judul bukunya ada kata-kata “jurus-jurus” gitu, gambarnya kayak ada kapal bajak laut mirip kapalnya Monkey D. Luffy One Piece.

Yang bikin saya suka sama buku itu adalah, ia, penulisnya, pandai banget menghubungkan perjuangan Luffy dan crewnya, dengan kehidupan real pembaca.

Contohnya begini, jadilah seperti Luffy, ia tetap mempertahankan cita-citanya demi One Piece, walau kaki, tangan, kepala dan jantungnya dihantam ribuan meriam. Waw.

Saya merasa dialirkan sesuatu setelah membaca buku ini, saya langsung semangat membaca buku lainnya, mulai senang ke perpus, mulai suka nanya-nanya buku tapi nggak beli, mulai beberapa kali nyolong buku teman, dan berbagai “nggak ada akhlak” lainnya, jangan ditiru ya, dosa.

Semenjak keranjingan membaca inilah saya berkembang, iya, Ridho yang sekarang adalah hasil membaca tadi.

Saya mana bisa menulis sepanjang ini dengan referensi tanpa membaca, saya mana bisa ngomong didepan orang dengan keren tanpa membaca, saya pasti nggak bisa menjawab pertanyaan musuh jika gue nggak mau membaca.

Manfaat yang paling terasa bagi saya adalah, dengan membaca, saya menjadi orang yang nggak sok tahu, nggak sok pintar, dan nggak merasa tahu segalanya.

Kalau saya tahu, saya akan jelaskan sesuatu itu dengan bacaan yang saya miliki, jika ilmu saya nihil mengenai suatu topik, saya akan diam, bertanya dengan dia yang tahu, lalu membaca lagi, belajar kembali.

Memang, ketika saya membaca, saya malah tambah rajin cari ilmu, baca lagi, baca terus, sampai pikiran saya pusing gara-gara membaca. Sekarang, kalau nggak baca dalam sehari, rasanya ada yang kurang, iya, seperti kurangnya kamu tanpa dia.

_______

Mbak, ohh mbak, masih nggak percaya kalau membaca itu penting? Atau mbak masih yakin jika membaca adalah hal yang nggak penting?

Saya kutip quotes dari kakak Asma Nadia disini, biar Anda yakin.

“Untuk bisa membaca banyak buku, diperlukan dua hal, yang uang dan waktu tidak termasuk diantaranya. Dua hal tersebut adalah gairah dan kerendahan hati kita menjadi banyak tak tahu.” (Helvy Tiana Rosa, Pendiri Forum Lingkar Pena, dikutip dari buku Hernowo, Flow di Era Socmed)

Apa maksud Mbak Helvy diatas? Iya, supaya Anda suka membaca, Anda harus menanamkan ke diri Anda kalimat begini, “Saya banyak nggak tahu, walau saya tahu, tahu saya sedikit, supaya tahu saya banyak, maka saya harus membaca,” masukan saya.

Selain kerendahan hati untuk merasa nggak tahu, Anda juga harus bergairah atau semangat atau berhasrat untuk membaca, iya membaca apapun, baca aja yang anda sukai.

Kalau Anda merasa tahu terus, ya sudah, Anda akan malas membaca, iyalah, tahu semua, ngapain membaca? Astaga, durhaka sekali kamu nak, kok begitu ngomongnya, tak boleh, baik-baik bicaranya dik, masuk neraka paling bawah nanti. Janganlah engkau berlaku sombong kisanak, orang sombong tak disenangi orang.

Kalau Anda mau jadi orang hebat atau penulis terkenal, iya harus membaca. Anda lihat bung Karno, berapa buku yang beliau baca sampai menjadi Bung Karno yang kece badai itu? Anda lihat Bung Hatta, temannya paling setia adalah buku, berarti beliau baca buku terus dong.

Anda tengok Abi Quraish Shihab, orangnya pintaar bung, walau ilmunya banyak, dia masih sangat rajin membaca. Buya Hamka, aduh, bukan kelasnya kita lagi nanya tentang bacaan ke beliau, pasti banyaklah.

Siapa lagi? Asma Nadia? Ahmad Fuadi? Andrea Hirata? Dewi Lestari atau Dee? Tere Liye? Najwa Shihab? Andy F. Noya? Karni Ilyas? J.S Khairen? Mamang Cimol? Tante-tante?

Yang dua terakhir bukan ya, mereka membaca juga, tapi membaca yang lain. Penulis-penulis luar biasa itu, Asma Nadia dan kawan-kawan, tidak mungkin nggak membaca, pasti membaca.

Asma Nadia dari kecil sampai sekarang memang rajin baca buku, inspirasi novel-novel best-sellernya iya bersumber dari bacaan beliau. Kalau tak membaca, darimana inspirasinya? Dari mikirin doi melulu?

“Untuk dapat fasih berbicara dengan bahasa yang kaya, indah dan menawan, kita harus berusaha memasukkan kata-kata sebanyak mungkin ke dalam diri kita. Dan untuk memasukkan kata-kata yang kaya ke dalam diri kita, tidak ada cara yang paling baik selain lewat kegiatan membaca buku.” (Hernowo, penulis buku Andaikan Buku itu Sepotong Pizza)

“Kebiasaan menulis, bukan datang dari kerapnya menulis, melainkan berasal dari ketekunan membaca.” (Dr. Stephen Krashen, dikutip dari buku Quantum Reading)

“Jika Anda ingin tahu bagaimana caranya menulis novel best-seller, bacalah novel-novel best-seller. Jika Anda ingin tahu cerita seperti apa yang mendapatkan pujian dari banyak orang, bacalah cerita yang dipuji-puji oleh banyak orang.” (A.S. Laksana)

Tapi ingat, bacalah buku dari berbagai cara pandang untuk perbandingan, bukan membaca buku, dengan cara pandang yang sama terus, itu kurang keren. Hehe…

Barangkali sekian ceritanya, terima kasih sudah membaca tulisan ini dari atas sampai kalimat yang Anda baca sekarang, dadah, Selamat Hari Buku Nasional, dan Salam Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. (Fn)

Muhammad Ridho
17 Mei 2020

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas