Kepanikan Sosial Hingga Narasi Sastra dalam Adab Ber-Covid 19

Oleh: Dzul Al-Riyauwie

Hampir empat minggu sejak pemerintah mengeluarkan maklumat mulai dari Work From Home (WFH), Sosial Distance, dan yang terbaru Permenkes Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) meskipun baru diberlakukan di-regional tertentu yaitu Jakarta.

Bukan masyarakat Indonesia berdemokrasi jika tidak kritis terhadap regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintahnya sendiri. Hal ini menjadi sebuah kewajaran ditengah kepanikan sosial yang melanda masyarakat kelas bawah karena dihadapkan dengan pilihan akan keberlangsungan hidup. Timbul kegaduhan masyarakat yang hanya bisa disampaikan melalui bisik-bisik, ghibah di media sosial sebagai bentuk kepedulian dari beragam kepanikan tersebut. Apakah kemudian presiden akan blusukan ke media sosial untuk mendengarkan keluhan masyarakatnya?

Meminjam pendapat Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid tentang muncul kepanikan dalam pendidikan setelah bertahun-tahun pasrah mondar mandir ke sekolah, banyak orang tua yang bingung dan bahkan stress bagaimana konsep study from home itu. Dapat dipahami kebingungan itu timbul karena konsep itu memindahkan pembelajaran di sekolah ke rumah dengan difasilitasi internet. Namun ini bukan kondisi terbaik yang bisa kita bayangkan. Kita harus berpikir study or learn At home.

Efek hebat pasca covid-19 yang dialami bangsa ini yaitu economic shock dan pemerintah sepertinya membaca ini dengan mengeluarkan kebijakan relaksasi finansial yang ramai ditanggapi ekonom dan masyarakat tentang regulasinya yang terkesan sebagai narasi sastra belaka yang tidak memiliki efek dikala kepanikan sosial membutuhkan tindakan riil untuk dijamah.

Masyarakat seolah dipaksa tetap tenang dalam lilitan kepanikan seperti sedang membaca dan mendengarkan karya monumental dari sastrawan yang melalui kata dapat menyihir dan bahkan menenangkan jiwa dari gejolak yang sedang melanda. Sekali lagi, masyarakat membutuhkan tindakan nyata dari negarawan sebagai pahlawan demokrasi sesungguhnya bukan berlindung dengan menjadikan masyarakat tameng dari kematian.

Mungkin tulisan ini masih mendefenisikan kepanikan sosial, regulasi dan adab dalam arti yang sempit seperti yang tertuang dalam wikipedia sebagai norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama.

Lantas tindakan konkrit seperti apa yang akan dilahirkan dari rahim kaum intelektual, aktifis, pemerhati, pemangku kebijakan untuk bersama keluar dari pandemi yang menyengsarakan khalayak ini? Apakah pada akhirnya narasi yang dibuat pada agenda diskusi online menjadi asupan bagaikan sastrawi yang hanya akan menjadi koleksi atau gerakan kolektif perubahan? Mari, tetap produktif dan beradab dalam ber-covid 19. (Fn)

Share this:

Kepanikan Sosial Hingga Narasi Sastra dalam Adab Ber-Covid 19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas