Karena Menulis Adalah Sebuah Kerja Peradaban

Setidaknya itu kesan pertama yang saya ingat ketika di awal penyampaian materi sebuah kelas menulis beberapa hari lalu. Kelas dibuka dengan pertanyaan “kenapa teman-teman ingin menulis?” Seketika saya pun merenung sejenak memikirkan pertanyaan itu. Selama ini saya menulis untuk siapa dan karena apa. Apakah saya menulis untuk diri saya sendiri dan karena ingin agar dikenal banyak orang, dapet royalti jutaan rupiah, sebagai ajang gengsi? Atau selama ini saya sudah menulis karena lillahita’ala dan menulis untuk berbagi manfaat terhadap sesama? Pertanyaan pemateri tadi berhasil membuat saya memikirkan ulang, apa sebenarnya yang harus menjadi motivasi kita dalam menulis.


Sampailah saat di mana dikatakan oleh sang mentor bahwa ketika kita menulis, berarti kita sedang membangun sebuah peradaban melalui tulisan itu. Saya pun langsung sependapat dengan beliau. Jika ada yang bertanya kenapa menulis bisa dikatakan membangun peradaban, maka jawabannya seperti ini.


Setiap orang Allah anugerahi akal. Dari akal itu jika digunakan manusia dengan maksimal akan menghasilkan sebuah ide dan gagasan. Sebuah kewajaran ketika kita memiliki ide, akan ada dorongan untuk mengeluarkan ide yang ada di kepala kita tersebut. Ada dua pilihan media yang bisa digunakan, yaitu media lisan dan tulisan. Dalam pembahasan ini, tentu yang dipilih adalah media tulisan. Setelah menemukan media untuk menuangkan pikiran, tahap selanjutnya yang akan kita rasakan adalah adanya keinginan untuk menyebarluaskan ide itu. Kita akan merasa idenya tersebut tidak boleh hanya dirasakan sendiri, tapi juga harus dirasakan orang lain. Maka hal yang dilakukan adalah menerbitkan tulisan itu dengan cara mencari penerbit dan memasukan ke media massa. Setelah itu tulisan kita akan tersebar luas.


Di antara pembaca tulisan itu pasti akan ada yang terpengaruh. Ketika sudah terpengaruh maka akan ada sebuah perubahan yang timbul. Mungkin saja, jika yang membaca hanya berkisar puluhan atau ratusan orang, efek yang ditimbulkan tidak terlalu terlihat. Namun bagaimana jika yang membaca mencapai jutaan orang dan semua mereka terpengaruh untuk berbuat perubahan akibat tulisan tersebut? Jika itu yang terjadi, selamat. Kita sudah berkontribusi dalam membangun sebuah peradaban. Dan kelak ketika telah tiada, tulisan-tulisan tersebut akan menjadi amal jariyah yang menerangi kubur kita.
Sejarah telah membuktikan bagaimana sebuah tulisan mampu menjadi pondasi dalam membangun sebuah peradaban. Mari kita kilas balik ke masa keemasan islam. Salah satu pondasi tegaknya dan cemerlang peradaban Islam adalah ilmu pengetahuan. Dari mana sumbernya ilmu pengetahuan tersebut? Dari buku yang ditulis oleh para ulama semisal Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Imam Syafi’i dalam bidang fikih, Imam Ghazali dalam bidang tasawuf dan masih banyak lagi. Berkat tulisan mereka, Islam memiliki peradaban yang agung selama berabad-abad. Tidak bisa kita bayangkan seandainya para ulama tersebut tidak menulis, maka kita akan pernah mengenal peradaban islam.


Contoh lain, berawal dari sebuah buku yang berjudul Das Kapital, karya Karl Marx, mampu membangun sebuah peradaban dan yang berideologikan Marxisme dan menjelma menjadi sebuah negara bernama Uni Soviet selama puluhan tahun. Dan jangan lupakan juga, sebab Adam Smith yang menulis sebuah buku yang berjudul The Wealth of Nations , kita saat ini mengenal ideologi kapitalisme yang bisa kita lihat menjelma menjadi Amerika Serikat saat ini.


Setelah mengetahui semua ini, apakah kita masih enggan untuk berkontribusi membangun sebuah peradaban melalui tulisan? Apakah akan terus rebahan di masa work from home ini tanpa berbuat sesuatu apapun? Inilah saatnya untuk kita berbuat. Tidak usah khawatir tulisan yang kita buat belum mampu mempengaruhi orang banyak, apalagi jutaan orang. Setidaknya tulisan kita mampu merubah diri sendiri dan orang di sekitar kita. Yang paling penting adalah saatnya kita mulai menulis. Masih takut menulis karena tidak pede, takut dibaca orang, takut dapat kritik? Buang jauh-jauh pikiran itu. Saya teringat ungkapan guru saya yang menjadi pegangan ketika tiap kali ini memposting tulisan dan rasa taku itu muncul. Beliau mengatakan, “Tidak ada penulis yang mati karena tulisannya jelek. Maka menulislah.”


“Menulislah karena para ulama terdahulu adalah seorang penulis. Menulislah sebagai pertanda kita pernah hidup di dunia ini.”


Wallahu A’lam Bisshawab

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas