Dilema Romantisme Semu

Oleh : Gusti Rian Saputra

Dari Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw telah bersabda, “Bukanlah yang terbaik diantara kamu orang yang meninggalkan urusan dunia karena mengejar urusan akhirat, dan bukan pula orang yang terbaik orang yang menhinggalkan akhiratnya karena mengejar urusan dunianya, sehingga ia memperoleh kedua-duanya, karena dunia itu adalah perantara yang menyampaikan ke akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban orang lain.”

Disrupsi yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi berdampak pada seluruh aspek kehidupan, salah satunya yaitu aspek sosial. Hubungan antar manusia tidak lagi terhambat oleh jauhnya jarak maupun minimnya ruang. Semua itu dapat berjalan dengan baik ketika pemanfaatan teknologi digunakan secara bijak, terlebih di bidang komunikasi dan informasi. Namun, seiring melesatnya waktu, pemanfaatan teknologi informasi beralih fungsi. Media sosial yang umumnya dimanfaatkan sebagai fasilitas kini malah digunakan untuk mempublis hal-hal yang tidak substansial, seperti menyebarkan berbagai dokumentasi kemesraan hidup sehari-hari.

Kemesraan yang dimaksud berupa penampakan dengan menonjolan kedekatan antar lawan jenis. Mereka biasa menyebut dengan berbagai istilah seperti; Pacaran, Gebetan, PDKT (Pendekatan), Hubungan Tanpa Status (HTS), dan masih banyak sebutan lainnya. Berbagai istilah tersebut digunakan sebagian orang untuk memberikan identitas sosial mereka. Dapat pula disebut sebagai legal formal suatu hubungan antar individu (laki-laki dengan perempuan).

Identitas sosial yang mereka klaim tersebut bertujuan untuk memberikan akses dalam melakukan berbagai aktivitas di luar batas kewajaran agama. Terkadang pula mereka menyebutnya dengan istilah ‘Romantis.’ Perwujudan romantis yang dimaksud seperti saling bersentuhan padahal belum mahram, berfoto ria diluar batas kewajaran bahkan berhubungan layaknya suami istri meski belum menikah. Hal ini menjadi dilema tersendiri. Lantas, seperti apa sebenarnya romantis itu?

Romantis adalah kemesraan iman yang terbalut pada kemurnian hati untuk mencintai segala hal, dengan tujuan hanya ingin mendapatkan ridha Allah SWT. Hal ini tidak hanya berorientasi pada dunia saja atau akhirat semata. Namun, orientasi romantisme tersebut terletak pada keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Menjadikan kemesraan manusia dengan tujuan ingin mendapatkan balasan kasih dari Tuhan. Ibarat pelayaran, dunia sebagai kapal, pelabuhan sebagai akhirat dan samudra sebagai iman. Tentu jika ingin mendarat dan sampai ke pelabuhan akhirat membutuhkan kapal (dunia) untuk berlayar dan samudra iman yang berfungsi mengalirkan serta menghantarkan ke tujuan.

Melakukan perbuatan yang diharamkan oleh agama dengan mengatasnamakan berbagai istilah sosial kekinian tidak dapat dibenarkan. Istilah-istilah yang muncul terkadang tidak memiliki dasar yang kuat. Kesalahpahaman dalam menafsirkan kata ‘Romantis’ menjadi penyebabnya. Hal ini membuat dilematisme lanjutan. Bagaimana mungkin kita dapat menyebut kata ‘Romantis’ sedang itu bertolakbelakang dengan substansi yang sebenarnya.

Sejatinya romantis yang sesungguhnya hanya berada di Akhirat. Dunia hanya sebatas perantara menuju romantisme abadi yang bersifat kekal. Perjumpaan kepada Tuhan sang maha kasih, dengan membawa hati yang suci. Suci dari segala anggapan kotor kemesraan yang terlarang. Semoga kita tidak terjebak pada dilema romantisme semu yang bersifat sementara. (Mrsn/Fn)

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas