Covid-19, Manusia Harus Sadar Diri


Oleh: Veliana Yolanda


Covid-19 atau yang biasar kita sebut dengan virus corona kini menjadi musuh terbesar semua orang, bahkan seluruh negara di dunia. Tak dapat dipungkiri wabah ini memberikan dampak besar bagi sebuah negara, terutama bagi negara indonesia sendiri. Sesuai dengan judul tulisan saya, maka mari kita pahami dulu apa defenisi dari virus ini dan dari mana asalnya.
Allah menciptakan makhluk kecil tak kasat mata ini bukan berarti tanpa sebab, saya mengutip dari kajian yang pernah saya ikuti, dipaparkan bahwa wabah pandemik ini termasuk musibah yang Allah SWT timpakan kepada manusia. Bagi orang mukmin musibah ini adalah ujian kesabaran. Bagi kaum fasik musibah ini adalah peringatan agar segera kembali ke jalan Allah SWT.


Seorang mukmin tidak akan mencela keberadaan pandemik corona. Ia sadar bahwa virus ini adalah salah satu dari sekian banyak makhluk Allah Yang Maha Kuasa. Ia yakin bahwa tidak ada satupun dari makhluk ciptaan-Nya yang sia-sia, semuanya pasti ada manfaatnya. Diantara manfaat itu adalah ujian keimanan dan kesabaran. Allah SWT berfirman dalam Qs. Ali Imran (3): 191. “Duhai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau. Karena itu peliharalah kami dari siksa Neraka.”


Dengan munculnya wabah Corona ini, seharusnya menambah keimanan kita kepada Allah SWT, tentang kebesaran dan kuasa-Nya, bahwa tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Bahwa semua yang ada di bumi ini akan kembali kepada-Nya, sesuai dengan firman Allah SWT, “Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya akan dipenuhi pahala kamu di hari kiamat. Maka barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh dia telah menang. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (TQS. Ali Imran [3] :185).


Kemudian ketika kita sudah yakin bahwa kematian itu pasti akan terjadi, tentu terbesit kekhawatiran pada diri kita, amalan apa yang sudah kita lakukan untuk bekal ke akhirat nanti, sudah siapkah diri nan lemah ini ketika telah sampai masanya untuk pulang ke pangkuannya? Maka sebagai seorang mukmin hendaklah kita untuk mempersiapkan segala bekal dan amal ibadah selama di tempat persinggahan ini. Kemunculan wabah ini hendaknya menambah keta’atan kita kepada Allah SWT dan makin khuyuk dalam beribadah kepada-Nya.


Allah SWT berfirman, “Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia, supaya Allah menimpakan sebagian akibat dari perbuatan (maksiat) mereka, agar mereka kembali (kepada Allah)” (TQS. Ar-Rum [30]: 41)
Hikmah yang dapat dipetik dari musibah ini adalah, seharusnya manusia sadar betapa lemahnya mereka.

Jangankan menghadapi Allah Yang Mahabesar, menghadapi makhluk ciptaan-Nya yang paling kecil pun mereka tak mampu. Hal ini juga seharusnya menyadarkan kita, sesuatu yang tak kasat mata bukan berarti tidak ada dan tidak akan pernah ada, seperti virus Corona. Jangankan rakyat biasa, bahkan negara adikuasa pun lumpuh total kerena makhluk-Nya yang amat kecil ini.


Bila dilihat dari data kasus covid-19 hingga Jum’at, 17 April 2020 pukul 16.09 WIB, jumlah pasien kasus corona di dunia mencapai 2.192.187 kasus. Sedangkan di indonesia dalam kurun waktu Kamis (16/4/2020) pukul 12.00 WIB hingga hari ini, Jum’at (17/4/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat penambahan 407 pasien Covid-19 di Tanah Air. Dengan demikian, kini ada 5.923 pasien Covid-19 di Indonesia, sejak kasus ini diumumkan untuk kali pertama pada 2 Maret 2020. (baca: kompas.com).


Wabah yang sangat mengerikan ini sangat cepat menyebar di seluruh negara bahkan dunia. Desakan kepada pemerintah untuk segera lockdown atau karantina wilayah pun disampaikan oleh banyak kalangan. Namun, rezim bisu. Rezim saat ini cenderung tidak mau menanggung konsekuensi pelaksanaan Pasal 55 ayat 1 UU No. 6 tahun 2008, yaitu Pemerintah Pusat harus mejamin kebutuhan dasar orang dan makanan hewan ternak bila karantina wilayah atau lockdown diberlakukan. Pemerintah sangat jelas ingin menghindar dari tanggung jawab ini.


Ketahuilah, sebagai seorang warga negara yang mukmin, ketika wabah telah menyebar dalam suatu wilayah, Negara wajib menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan secara gratis untuk seluruh rakyat di wilayah wabah tersebut.

Negara harus memfasilitasi rumah sakit, laboratorium pengobatan dan lainnya untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat agar wabah segera berakhir. Negara pun wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, khususnya kebutuhan pangan rakyat di wilayah wabah tersebut. Adapun orang-orang sehat yang berada di luar wilayah karantina tetap melanjutkan kerja mereka sehingga kehidupan sosial dan ekonomi tetap berjalan.


Inilah langkah-langkah shahih yang akan dilakukan oleh negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Wallahu’alam.

Payakumbuh, Jum’at, 17 Maret 2020

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas