Berteman di Dunia Hingga ke Surga

Oleh: Ika Rini Puspita
(Penulis Buku ‘Negeri ½’)

Baik atau buruknya seseorang bisa bergantung pada teman-teman dan lingkungannya. Jika pergaulannya itu baik, insyaAllah maka orang tersebut dapat menjadi baik. Namun jika pergaulannya buruk, maka bisa juga seseorang terbawa menjadi buruk. Itu sebabnya, berkawan dengan orang-orang yang dekat dengan Allah sangat diperlukan, agar ada yang mengingatkan saat diri berbuat kesalahan.

Pengaruh dari seorang sahabat sangatlah besar, sebab aktivitas yang akan dilakoni, pun sejalan dengan lingkungan berkawan kita. Setidaknya dengan memilih sahabat yang baik, akan membawa kita pada kebaikan dan ketaqwaan. Pengaruh terjalinnya persahabatan hanya ada dua kemungkinan. Pertama, kita yang memberi pengaruh. Kedua, mereka yang memberi pengaruh. Sahabat yang baik tentutentu memberi pengaruh yang baik. Ketaatannya akan membawa kita pada ketaqwaan, karena kebaikan yang selalu ia berikan akan membuat kita ingin menjadi lebih baik.

Allah berfirman: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Tidak dapat dipungkiri bahwa keimanan dan ketaqwaan kita tergantung dari sahabat yang selalu bersama kita. Jika banyak menghabiskan waktu bersama dan berkumpul dengan sahabat yang baik, waktu yang dihabiskan akan terpakai untuk melakukan kebaikan.

Seyogianya kita dianjurkan untuk selektif dalam memilih sahabat. Jangan sampai salah memilih karena tidak membatasi pergaulan dengan siapapun. Sebaliknya juga, jangan sampai dengan dalih selektif hanya berkawan dengan satu pengajian, komunitas, harokah, dan lain-lain. Tentu ini tidak tepat. Memilah-milah teman memang perlu, tapi berteman dengan siapa saja juga perlu. Setidaknya banyak teman banyak rezeki kata orang, tentu banyak pula pelajaran berharga yang bisa kita raih, juga tidak memutus rantai dakwah ke tengah-tengah teman-teman kita.

Namun, perkara di atas mesti kita telisik lebih detail, berteman dengan siapa saja atau berdakwah dengan teman kita juga mesti pandai-pandai memperhatikan caranya. Jangan sampai tujuan mewarnai sebab dakwah, justru kitalah yang terwarnai. Jika mereka bermain lumpur, kita tidak wajib ikut bermain lumpur juga. Bermain cantik itu perlu.

Berdasarkan QS. Az-Zukhruf: 67, persahabatan tanpa taqwa hanya tinggal menunggu waktu untuk terjadinya perpecahan di dunia maupun di akhirat. Sedangkan persahabatan yang didasari dengan ketaqwaan akan kekal sampai saling menolong di akhirat kelak.

Berdasarkan penjelasan di atas maka, dapat disimpulkan bahwa berteman tanpa adanya ikatan takwa itu temporal sebab bisa berubah-ubah sesuai keadaan dan kepentingan bahkan bisa menimbulkan perpecahan di dunia maupun di akhirat. Macam-macam ikatan sebagaimana yang dinukil dalam karangan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (Peraturan Hidup Dalam Islam, 2015) sebagai berikut:

Pertama, ikatan kepentingan. Ikatan ini timbul karena ada kesamaan kepentingan. Tidak dapat dijadikan pengikat antar manusia sebab sifatnya temporal. Karena akan adanya peluang tawar-menawar dalam mewujudkan kepentingan yang lebih besar.

Kedua, ikatan Nasionalisme (kesukuan, kebangsaan atau ras) adalah ikatan yang bersifat emosional yang lahir dari naluri mempertahankan diri semata, tidak tumbuh dari sebuah kesadaran yang permanen sehingga ikatan ini kontradiktif. Disatu sisi menyatukan manusia namun di sisi lain justru menumbuhkan sikap egaliter terhadap bangsa lain. Sehingga pada dasarnya ikatan ini lemah, karena ketidakmampuannya menyatukan manusia secara permanen. Ikatan ini muncul tatkala ada ancaman dari pihak luar terhadap eksistensi suatu komunitas. Misal bentrok antar suku yang marak terjadi, inilah contoh nyata sukuisme.

Ketiga, ikatan spritual atau kerohanian berdasarkan kepercayaan agama ini pun sifatnya tidak konperehensif (parsial). Sebab, ikatan ini hanya berkaitan dengan aspek ritual yaitu hubungan antara manusia dengan yang disembahnya saja. Sebatas itu dan tidak ada hubungannya dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Keempat, ikatan ideologi adalah keyakinan (akidah) yang melahirkan suatu aturan yang mampu mengatur hidup manusia. Ikatan ini hanya memandang akidah bukan yang lain. Perbedaan warna kulit, ras kekayaan, kepentingan dan lain-lain bukanlah persolan yang dapat mengikat antar manusia.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa ikatan ideologi terletak pada seorang yang memiliki ideologi entah dia Muslim, kapitalis dan sosialis-komunis. Tapi yang jelas, Islamlah satu-satunya ideologi yang benar karena ia bukan hasil dari pemikiran manusia, ia semata-mata dari Sang Pencipta manusia. Sehingga ikatan ini mampu mempersatukan umat manusia ibarat satu tubuh. Setiap bagian adalah penting, saling peduli, melindungi dan bekerjasama. Umat Muslim harus berani menghempaskan ikatan seperti nasionalis, spritual, kapitalisme dan sosialisme yang rusak. Dan, senantiasa berpegang pada dalil-dalil syariah bukan yang lain. Tolak ukur perbuatannya adalah halal-haram yang didasarkan pada Islam.

Rasulullah Saw. bersabda: “Bukan dari golongan kami yang menyerukan ‘ashabiyyah: bukan dari golongan kami orang-orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyyah: bukan dari golongan kami orang yang mati karena ‘ashabiyyah” (HR. Abu Dawud). Dalam hadits lain disebutkan oleh Misykat al-Masabih Rasulullah bersabda, “Orang yang menyerukan ‘ashabiyyah laksana orang yang menggigit kemaluan Bapaknya”.

Walhasil, seyogianya ikatan akidah Islamlah yang harus dipegang oleh setiap Muslim. Untuk apa menghabiskan waktu banyak dengannya apabila akhirnya akan saling membenci tanpa manfaat? Berkawan boleh sama siapa saja, namun teman akrab juga mesti diseleksi. Seperti penjelasan di atas, sebagai seorang Muslim ikatan akidah Islamlah (ideologi) yang wajib kita ambil bukan yang lain. Bukankah teman yang memiliki visi-misi yang sama itu keren, apalagi berjuang bersama menegakan ideologi Islam. Dalam artian berteman di dunia hingga ke surga, insyaAllah. Wallaahu a’lam.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas