Bangun Indonesia; Menyongsong Lahirnya Generasi Muslim Baru

Oleh: Rafani Tuahuns, S.H. (Penulis adalah Founder Satu Asa, Dept Advokasi PB PII)

Kesejahteraan, adalah satu kata kunci penting lahirnya Negara Republik Indonesia. Sebagaimana yang termaktub jelas dalam amanat pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, “Untuk Memajukan Kesejahteraan Umum”. Cita-cita hadirnya negara itu merupakan mimpi panjang yang kini menjadi pertanyaan mendasar, setelah 74 tahun merdeka, apakah rakyat Indonesia sudah sejahtera?

Tak perlu malu menjawab. Nyatanya negeri ini masih jauh dari kata sejahtera. Angka kemiskinan masih sangat tinggi. Angka pengangguran pun masih sangat besar, pendidikan yang tidak merata, angka stunting yang melambung, juga menjadi bukti bahwa kesehatan warga kian memburuk. Belum lagi, sumber daya alam ibu pertiwi masih banyak dikuasai oleh asing, sementara warganya, menjadi kuli di negeri sendiri.

Realitas itu tentu hanya dapat diatasi, dengan membenahi Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Ya, SDM. Kunci pembangunan setiap bangsa adalah memperbaiki SDM nya. Dan SDM terbaik, adalah generasi muda yang siap menjemput masa depan negerinya.

Dalam catatan sejarah pembangunan negeri ini, sejak awal kemerdekaan, kontribusi kelompok Islam sangatlah besar. Berawal dari perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebut saja, dua organisasi besar di negeri ini, Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, serta berbagai kelompok Islam lainnya, menjadi kekuatan ummat Islam Indonesia di awal abad ke 20 dan menjadi bagian penting dalam mencetak tokoh muslim yang memperjuangan kemerdekaan RI.

Perlu diingat juga munculnya Serikat Dagang Islam (SDI). Satu kelompok Islam yang kokoh dengan isu ekonomi melawan kolonialisme belanda ketika itu. Menabuh genderang perlawanan terhadap penajajah. Begitu juga para santri, kiyai, dan masyarakat muslim ketika itu, ikut mengangkat senjata melawan penjajah. Namun, sejak awal periode kemerdekaan itu pula, ummat islam tertuduh menjadi kelompok yang ingin merusak NKRI, padahal nyatanya telah memberi bukti dan kontribusi bagi negeri.

Pada 1959, tatkala negeri ini terbelah menjadi belasan negara bagian akibat intervensi Belanda yang terus menancapkan hegemoninya di negeri ini, hadir tokoh Islam yang juga pendiri dan pemimpin partai islam ketika itu, Mohammad Natsir. Dengan Mosi Integral, menjadi langkah strategis menyatukan nusantara dibawah naungan NKRI. Penyebutan awal NKRI lahir sejak saat itu. Meski telah memberi kontribusi besar bagi NKRI, M.Natsir dan partainya Masyumi, juga mengalami tuduhan miring, hingga akhirnya berujung dibubarkannya Masyumi sebagai salah satu partai politik di Indonesia.

Di awal-awal kemerdekaan itu pula, lahir kelompok gerakan muda Islam, di kalangan pemuda lahir Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), di kalangan mahasiswa lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan di kalangan pelajar, lahir Pelajar Islam Indonesia (PII). Semangatnya sama, kaum muda islam yang ingin berkontirbusi besar pada ibu pertiwi. Namun, di era orde baru organisasi berasaskan islam ini, dipaksa oleh rezim untuk tunduk pada Kebijakan Asas Tunggal.

21 tahun pasca reformasi, lahir era baru yang dinamakan Revolusi Industri 4.0. Sebuah era yang ditandai dengan penyebaran informasi yang begitu cepat dan teknologi semakin canggih. Segalanya serba praktis dan cepat, segalanya serba teknologi. Semua teknologi yang ada bersumber dari dua kekuatan, Amerika Serikat dan Cina. Dua kekuatan yang kini juga menjadi penguasa ekonomi dunia yang sedang terlibat perang dagang. Imbasnya, kedua kekuatan tersebut menancapkan taring ekonomi di hampir semua negara, termasuk Indonesia.

Lantas, bagaimana upaya Indonesia untuk bangkit menjadi negara maju yang menyejahterakan rakyatnya di tengah kondisi Indonesia yang masih saja terjajah secara ekonomi? Hutang luar negeri Indonesia yang setiap tahun meningkat, menjadikan negeri ini semakin tak berdaya. Akhirnya, kebijakan yang lahir untuk menjaga kedaulatan ekonomi terasa sia-sia. Orang Kaya makin kaya, orang miskin makin miskin.

Sementara, dalam kehidupan sosial, masih saja terdengar di berbagai media, tuduhan kepada kelompok Islam begitu deras. Islam dituduh Intoleran, Islam dituduh anti NKRI dan anti Pancasila. Bagaimana mungkin Islam yang sejak awal ikut berperan penting bagi perjuangan kemerdekaan republik Indonesia dan lahirnya NKRI menistakan negerinya sendiri?

Tuduhan menyesatkan ini tidak lain dan tidak bukan bisa diasumsikan dari kelompok-kelompok asing yang ingin melemahkan kebangkitan negeri ini. Kenapa? Karena kekuatan utama negeri ini adalah kelompok Islam. Secara jumlah, ummat islam mayoritas, tentu sangat berpengaruh bagi kebangkitan peradaban nusantara. Secara konseptual, Islam memiliki tuntunan kehidupan, baik secara etik maupun dalam prinsip-prinsipnya serta tata kehidupan sosial masyarakat. Itulah yang kemudian menjadikan musuh negeri ini khawatir. Jika kelompok islam bangkit di negeri ini, itu bisa mengancam kekuatan hegemoni asing tersebut.

Narasi Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur, menjadi narasi pemersatu ummat islam untuk membangun negeri ini. Mayoritas kelompok Islam bersepakat, bahwa Indonesia merupakan sebuah negeri yang dicita-citakan oleh ummat islam Indonesia sebagai negeri yang makmur dan diridhai oleh Allah SWT.

Harapan Generasi Baru Muslim

Cita-cita itu kini, diemban oleh kelompok pembawa harapan baru yang disebut sebagai Generasi Muslim Baru. Generasi ini memiliki tiga karakter utama.

Pertama, generasi muslim yang cinta akan Al Quran. Generasi yang selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an dan dibimbing oleh para ulama. Ciri pertama ini menandakan satu kesadaran baru muncul, menjadikan nilai-nilai Qur’an sebagai solusi kehidupan. Kedekatan dengan Sang Pencipta juga mengarahkan generasi ini senantiasa terbimbing dalam tuntunan wahyu Allah SWT.

Ciri kedua, generasi muslim yang cinta Ilmu pengetahuan. Generasi yang senantiasa berbasis riset, berbasis data, berbasis akademik. Ciri khas ini menjadikan setiap langkah dan keputusan yang diambil tidak serampangan. Senantiasa tertata rapi dengan basis ilmu pengetahuan.

Integrasi generasi pecinta Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan, merupakan cita-cita M.Natsir, menjadikan ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Dua ciri khas ini, disempurnakan dengan karakter ketiga, yakni generasi yang siap memimpin. Dulu, Islam selalu dipisahkan dengan kepemimpinan.

Selalu ada dikotomi, antara Islam dan kehidupan sosial, bahwa islam hanya urusan pribadi, sementara urusan publik tidak boleh dicampuri dengan islam. Padahal Islam memiliki narasi komperhensif tentang kepemimpinan.
Karakter ketiga ini menjadi karakter kunci, bahwa kesadaran anak-anak muda islam semakin bertumbuh.

Kepemimpinan yang ternyata bagian dari ajaran dan anjuran islam, kini disadari penuh harus terintegrasi dalam konteks keindonesiaan. Akhirnya, generasi baru itu, paripurna dengan tiga karakter utama, muslim, cendikia, pemimpin.

Kepemimpinan masa depan negeri ini, sudah saatnya dipegang oleh generasi muslim baru ini, generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, berbasis ilmu pengetahuan dan siap memimpin negeri.
Tiga karater ini telah diisyaratkan Allah SWT sejak awal diutusnya Baginda Rasulullah SAW. Sebagaimana tertib turunnya wahyu yang menurut Imam Ibnu Abbas, Surah Pertama yang turun adalah Al-Alaq, kemudian Al-Mudzammil dan setelahnya Al Mudtasir.

Ketiga surah ini memiliki makna penting dalam menata peradaban dunia baru. Al-Alaq memilki semangat tauhid dan ilmu pengetahuan. Al Muzammil memiliki semangat pada Al-Qur’an dan kedekatan pada Sang Pencipta. Sedangkan Al Mudatsir memberi semangat dakwah sebagai manifestasi kepemimpinan seorang muslim yang telah beriman dan berpengetahuan. Sangatlah tepat, karakter muslim cendikia pemimpin menjadi syarat utama membangun peradaban Indonesia baru.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas