Transformasi Nilai-Nilai Keislaman Terhadap Adat Minangkabau

Oleh: Veliana Yolanda

Dahulu ketika berakhirnya  perang saudara di Minangkabau, yaitu antara “kaum muda” dan “kaum muda” dengan para ulama dan penghulu-penghulu terkemuka di Luhak nan Tigo. Maka dilaksanakan kesepakatan Bukit Mapapalam, di mana pemilihan ini pada tempat ketinggian di puncak Pato, yang terletak di antara desa Sungayang dan Bukik Bulek. Dan sejak dikukuhkannya Perjanjian Bukit Marapalam oleh pemuka Adat dan Ulama di Minangkabau, maka dilakukanlah penyebaran kesepakatan oleh kedua belah pihak.

Sehingga lahirlah wujud konkrit dari perjanjian tersebut ke sebuah filsafat adat, yaitu: Adat bersandi syarak-syarak bersandi kitabullah, syarak mangato-adat mamakai.Penjelasannya yaitu, setiap peraturan adat di minangkabau berlandaskan kepada Islam yaitu Alqur’an dan hadits, ketika ada fatwa atau perintah dalam agama Islam maka adat akan memakai hukum terserbut.

Dalam adat minangkabau terdapat beberapa bagian hukum adat:

  • Adat nan sabana adat

Maksudnya adalah adat yang berasal dari hukum yang tidak bisa dirubah, tak lapuak dek hujan, tak lakang dek paneh. Atau biasa disebut dengan “Hukum Alam”. Contoh: api membakar, air mengalir.

  • Adat Nan Diadatkan

Adat nan diadatkan adalah adat buatan yang dirancang, dan disusun oleh nenek moyang orang Minangkabau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aturan yang berupa adat nan diadatkan disampaikan dalam petatah dan petitih, mamangan, pantun, dan ungkapan bahasa yang berkias hikmah.

  • Adat Nan Taradat

Artinya dapat diperbaiki, diubah, dan diganti. Fungsi utamanya sebagai peraturan pelaksanaan dari adat Minangkabau. Contoh penerapannya antara lain dalam upacara batagak pangulu, turun mandi, sunat rasul, dan perkawinan, yang selalu dipagari oleh ketentuan agama, di mana syarak mangato adaik mamakaikan.

  • Adat Istiadat

Adat istiadat merupakan aturan adat yang dibuat dengan mufakat niniak mamak dalam suatu nagari. Peraturan ini menampung segala kemauan anak nagari yang sesuai menurut alua jo patuik, patuik jo mungkin. Adat istiadat umumnya tampak dalam bentuk kesenangan anak nagari seperti kesenian, langgam dan tari, dan olahraga.

Pada zaman sekarang penerapan Adat bersandi syarak-syarak bersandi kitabullah di bumi Minangkabau kurang terealisasikan, dimana ada beberapa adat kebiasaan yang belum sesuai atau bahkan tidak sesuai dengan syari’at Islam.Dan kebiasaan ini juga berangkat dari latar belakang orang minangkabau sebelum memeluk Islam. Yang mana pada masa itu berpaham animisme, yaitu menyembah roh leluhur yang sudah meninggal. Kemudian ketika Islam datang dan masuk ke ranah minang, masyarakat pada saat itu tentu tidak bisa langsung menerima Islam secara keseluruhan. Kemudian setelah jangka waktu tertentu, minangkabau menjadikan agama Islam sebagai dasar/sumber adat istiadat. Walaupun penerapan syara’ tersebut belum secara keseluruhan dipakai oleh orang Minangkabau, setidaknya dasar hukum Islam sudah diterapkan.

Contoh kasus adat istiadat di Minangkabau yang kurang sesuai dengan syari’at Islam adalah mengenai sistemgaris keturunan. Dimana yang dipakai adalah garis keturunan matrilinear, yaitu garis keturunan berdasarkan ibu. Seperti yang kita ketahui sistem garis keturunan menurut Islam adalah berasal dari Ayah. Mengenai kasus ini saya sendiri tidak paham kenapa ini bisa terjadi.

Kemudian pada kasus lain, ketika salah satu anggota keluarga ada yang meninggal, maka ketika memperingati 3, 7, 14, 100 hari kematian dan seterusnya, ahli waris dituntut untuk menyelenggarakan hari peringatan tersebut. Dengan cara membuat acara makan besar dan do’a bersama dengan petinggi adat di dalam suku tersebut. Hal ini sudah pasti akan memberatkan kepada ahli waris. Seharusnya masyarakatlah yang membantu dengan bersedekah kepada si ahli waris. Memang hal ini juga sudah dilakukan oleh masyarakat setempat, namun yang menjadi persoalan disini adalah acara perayaan/peringatan untuk kematian seseorang.

Kesimpulan dari pembahasan saya ini adalah bahwa pada adat minangkabau sudah memiliki transformasi nilai-nilai Islam pada zaman dulu hingga sekarang, walaupun belum secara keseluruhan. Tugas kita adalah memahami syari’ah Islam dengan baik sehingga tidak terdoktrin untuk selalu mengikuti adat istiadat yang menyimpang dari Islam.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas