Ibnu Sina dan Kearifan Timur

Ibnu Sina

Sumber Foto: Iran Front News Page

0Shares

Oleh: Delianur

Antonie Van Leeuwenhoek bisa disebut sebagai orang pertama yang melihat bakteri pada tahun 1684. Peneliti berkebangsaan Belanda ini berhasil melihat makhluk hidup super kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata, dengan memakai mikroskop amatir buatannya. Sementara Robert Heinrich Herman Koch dari Jerman yang hidup sepanjang 1843-1910 bisa dianggap sebagai pendiri modern Bakteriologi. Karena perannya dalam mengidentifikasi agen penyebab spesifik TB, Kolera dan Antrak. Karenanya nama Robert Koch pun diabadikan menjadi nama Robert Koch Institute. Sebuah lembaga kajian kesehatan di Jerman yang pada masa pandemi ini, dijadikan rujukan Angela Markel dalam menangani pandemi virus corona di Jerman.

Namun 600-800 tahun sebelum Leeuwenhoek dan Koch hidup, entah bagaimana Ibnu Sina bisa mengatakan hal serupa. Menurut Ibnu Sina, dalam tubuh manusia itu ada makhluk super kecil yang tidak bisa dilihat mata. Makhluk super kecil itu kerap menjadi sumber penyakit dan memindahkan penyakit dari satu manusia ke manusia lain. Perpindahannya bisa melalui pakaian yang dipakai atau persentuhan badan. Untuk menghindari menjalarnya penyakit yang disebabkan makhluk kecil itu, Ibnu Sina menganjurkan pelaksanaan isolasi selama 40 hari yang disebut Al-Arbai’n, yang dalam bahasa Arab berarti 40.

Metode isolasi selama 40 hari inilah yang dipakai oleh orang Venezia Italia ketika Eropa dilanda Black Death. Sebuah wabah pes di Abad 14 yang membunuh sampai 60% penduduk Eropa. Orang Venezia memakainya karena dia adalah kota pelabuhan. Tempat dimana wabah itu menyebar. Dalam bahasa Venezia, Al-Arba’in disebut dengan Quarantine yang juga berarti 40. Pada masa sekarang, orang menyebutnya dengan karantina. Sebuah proses mengisolasi penyakit yang karena kemajua pengetahuan, tidak selalu berlaku selama 40 hari.

Selain mengatakan bahwa sumber penyakit itu berasal dari sesuatu yang bersifat fisik, Ibnu Sina juga yang mengatakan bahwa sumber penyakit pada dasarnya bisa hal yang bersifat non psikis. Karenanya orang tidak hanya akan sakit karena dihinggapi virus, tetapi badannya juga akan sakit kalau dia ditinggalkan orang yang sangat dia cintai. Apakah ditinggal meninggal oleh orang tuanya, anaknya atau istrinya. Bisa juga karena ditinggal pacaranya. Seperti yang disebut Ibnu Sina dalam Qanun At-Thib. Sebuah master piece yang diterjemahkan menjadi “The Canon of Medicine” dan menjadi rujukan banyak fakultas kedokteran di Eropa

Kesimpulan Ibnu Sina ini berdasar pada psikologi eksperimental yang diterapkannya. Disebutkan bahwa suatu hari Ibnu Sina dihadapkan pada seorang pemuda yang kelihatan sakit parah. Namun tidak jelas penyebabnya apa. Untuk menelusuri penyebabnya, Ibnu Sina pun memegang nadinya sambil menyebutkan banyak hal. Ketika disebut nama sebuah kota, denyut nadi si pemuda bergerak lebih kencang. Ibnu Sina pun lalu menyuruh orang untuk mencari tahu ada nama jalan apa saja serta siapa saja yang ada di kota itu.

Ketika nama jalan dan nama-nama orang yang ada di kota tersebut sudah ada, upaya eksperimental Ibnu Sina dilanjutkan. Sambil menyebut nama-nama jalan, Ibnu Sina terus merasakan denyut nadi si pemuda. Ketika disebut sebuah nama Jalan, dan denyut si pemuda naik, maka Ibnu Sina menyebut nama orang-orang yang ada di Jalan tersebut. Sampai akhirnya denyut si pemuda tersebut naik mencapai puncaknya ketika disebut nama seorang perempuan. Karenanya menurut Ibnu Sina, obat bagi pemuda tersebut adalah menikah dengan perempuan yang dia sebut tadi.

Karena melihat manusia terdiri dari jiwa yang juga bisa sakit tapi bisa disembuhkan, Ibnu Sina juga mempunyai pandangan terhadap orang gila. Bahwa orang gila pada dasarnya bisa disembuhkan dan mesti dibuat Rumah Sakit khusus menanganinya, yaitu Rumah Sakit Jiwa. Pandangan Ibnu Sina ini berbeda dengan pandangan yang berlaku di masyarakat Eropa waktu itu. Kala itu Eropa menganggap bahwa orang gila adalah fenomena orang yang membawa sikap-sikap iblis. Karena itu solusi bagi orang gila itu dibakar, bukan disembuhkan.

Karena reputasi inilah kemudian Ibnu Sina dikenang sampai sekarang. Di Hamadan, pemerintah Iran membangun Mausoleum Ibnu Sina. Sebuah kompleks yang mencakup perpustakaan, museum kecil dan sebuah pasak untuk mengenang Ibnu Sina. Fakultas Kedokteran University of Paris Prancis, menempelkan poster Ibnu Sina di Great Hall nya. Unesco, mengadakan UNESCO Avicenna Prize for Ethics in Science. Sementara NASA, setelah di otorisasi IAU (International Astronomical Union), memberikan nama Avicenna terhadap salah satu kawah di Bulan.

Hanya saja kekeliruan banyak orang adalah ketika menganggap bahwa Ibnu Sina hanya pakar kedokteran saja. Cendikiawan muslim pada masa itu, dikenal mempunyai banyak kepakaran atau polymath. Ibnu Rushd misalnya. Selain dikenal sebagai filosof penafsir Aristoteles, juga dikenal sebagai seorang tabib dan fakih. Begitu juga dengan Ibnu Sina.

Selain kedokteran, Ibnu Sina juga dikenal sebagai filosof. Disebutkan bahwa Ibnu Sina membaca Metaphysic Aristoteles. Karena buku itu sangat rumit, Ibnu Sina membacanya sampai 40 kali tapi tidak kunjung faham. Sampai akhirnya menemukan buku tulisan Al-Farabi, baru kemudian faham. Sebagai tanda kesukuran karena bisa memahami Metaphysic Aristoteles, Ibnu Sina sujud dan merayakannya dengan berderma kepada fakir miskin. Al-Farabi sendiri kala itu disebut “Guru Kedua” karena “Guru Pertama” adalah Aristoteles.

Berkaitan dengan filsafat inilah yang menarik. Salah satu karya Ibnu Sina di bidang filsafat adalah bukunya yang berjudul “Al-Mantiqi Al-Masyriqi”. Ada yang menterjemahkan “Mantiq” sebagai logika, filsafat, ada juga yang menterjemahkannya sebagai kebijakan. Sementara “Al-Masyriqi” bermakna Timur. karenanya “Mantiq Al-Masyriqi” adalah Filsafat Timur, atau Kebijakan Timur atau Logika Timur. Hanya saja konon di buku itu disebut tentang “Hikmah Al-Mashriqiyyah” atau kebijaksanaan Timur.

Hanya yang menarik bagi saya adalah kenapa Ibnu Sina menyebut nama “Timur?”Apakah ini berkaitan dengan posisi Ibnu Sina yang berasal dari “Timur”, orang Uzbekhistan yang meninggal di Iran, atau memang ini berkaitan dengan cara pandang “Timur” itu sendiri.

Menurut para pengkaji pengkaji Filsafat Islam “Masyriq” itu kebalikan dari “Maghribi” yang berarti Barat. Bila Timur itu lambang pencerahan, maka Barat itu lambang kegelapan. Karena Matahari itu terbit dari Timur dan tenggelam di Barat. Karenanya keliru kalau orang mencari pencerahan ke Barat, karena mencari pencerahan justru mesti ke Timur. Mencari pencerahan mesti ke tempat munculnya Matahari bukan ke tempat tenggelamnya Matahari.

Pastinya tidak sesederhana ini memahami Timur yang mencerahkan dan Barat yang menggelapkan. Kita mesti memahami lebih panjang dan mendalam beberapa pemikiran Ibnu Sina tentang akal, pikiran, klasifikasi ilmu untuk memahami kenapa menurut Ibnu Sina tradisi Timur itu mencerahkan.

0Shares

Read Previous

Apakah Saya Juga Wajib Berdakwah? Absolutely Yes!

Read Next

Post Pandemi Covid-19: Jadikan Momentum Perubahan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow On Instagram
Open chat