Apakah Saya Juga Wajib Berdakwah? Absolutely Yes!

0Shares

Oleh: Afidatun Nahdiah (Ketua Bidang Kaderisasi PB PII)

Milenial, Gen Z, kawula muda atau siapapun kamu, jika kamu punya pertanyaan-pertanyaan unik tentang apakah saya juga mesti berdakwah? Baiklah, mungkin kita bisa sejenak berdialog.

Ada banyak sekali ustadz (sebutan untuk guru atau pendakwah) yang sangat populer belakangan ini. Sebut saja Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Hanan Attaki, Ustadz Felix Siauw, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz dr. Zaidul Akbar dan masih banyak lagi yang ceramah-ceramahnya banyak diserbu di media sosial. Terlebih karena media sosial menjadi sarana yang sangat mudah dan semakin digemari masyarakat untuk saling berbagi dan menerima berbagai konten informasi saat ini.

Ceramah-ceramah ustadz kondang tersebut memang sangat bagus untuk didengarkan. Nasehat mereka memberi banyak pengetahuan juga pencerahan. Hanya saja, pola pikir kita yang lantas terlalu nyaman hanya menjadikan diri sendiri sebagai pendengar, juga tidak benar. Lantas kita berpikir bahwa berdakwah adalah profesi mereka saja. Jika kita berdakwah nanti tidak akan sebagus mereka, serta masih ada lagi alasan-alasan lain yang menghalangi kita.

Tentu saja, sangat tidak baik menyusun mental block seperti demikian dalam pikiran kita sendiri. Mental block akan membunuh seluruh keinginan dan aktivitas kita secara perlahan. Kita harus berusaha menghancurkan dan melampaui pikiran-pikiran negatif kita sendiri.

Perihal menyampaikan sesuatu, memang hendaknya kita tidak asal-asalan, apalagi bisa menyesatkan orang lain. Hal yang kita ucapkan dan kita sampaikan seharusnya sudah kita pahami betul sehingga kitapun sudah yakin untuk memberitahukan informasi tersebut untuk dikonsumsi orang lain. Tetapi, dakwah tidak hanya harus dilakukan oleh orang yang bergelar ustadz atau orang lulusan sekolah agama saja.

Dakwah tidak hanya harus dilakukan oleh kalangan profesional tertentu saja. Berdakwah merupakan kegiatan aktif yang dapat dilakukan siapapun. Siapa saja yang memiliki kebaikan dalam dirinya dapat meneruskan pengetahuan dan amalannya kepada orang banyak agar kebaikan tersebut terus berkembang.

Berdakwah secara umum berarti mengajak, menyeru dan memanggil orang lain untuk menjadi manusia yang taat. Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan untuk mengajak orang lain, baik melalui ucapan, tulisan maupun contoh perilaku. Alangkah lebih baik jika bisa melakukan semuanya. Berdakwah tidak melulu dilakukan melalui lisan seperti ceramah, pidato dan orasi. Tetapi akan sangat aneh jika pendakwah tidak bisa berbicara dimuka umum semisal berpidato. Begitupula dengan aktivis, sudah barang tentu harus pandai berbicara, mengajak dan bergerak.

Berdakwah hukumnya wajib. Laki-laki maupun perempuan, ustadz maupun bukan ustadz diwajibkan hukumnya berdakwah. Dakwah adalah perintah Allah SWT. sehingga hukumnya wajib sebagaimana Allah berfirman dalam An-Nahl: 125; “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”. Kata “serulah” atau “Ud’u” disana merupakan fi’il ‘amr (kata perintah) dimana setiap kata perintah hukum asalnya ialah wajib, selama tidak ada dalil lain yang mengalihkannya menjadi sunnah dll.

Allah juga berfirman dalam surat ‘Ali Imran: 104; “ Dan hendaklah ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.  Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Memang kewajiban disana bukanlah wajib ‘ain artinya kewajiban bagi setiap diri seperti Shalat, Puasa dan lain-lain. Kewajiban berdakwah tersebut ialah wajib kifayah artinya kewajiban tersebut dapat diwakilkan oleh orang lain dalam setiap lingkungan maupun golongan. Namun, wajib kifayah dalam berdakwah tidak boleh lantas dipahami seperti mengurus jenazah atau menentukan jatuhnya bulan Ramadhan dan hari raya ‘Id, dimana jika ada sekelompok orang yang mengurusnya maka yang lainnya sudah terlepas.

Menyampaikan kebaikan dan kemaslahatan seyogianya dilakukan oleh setiap orang dikarenakan kita menghendaki kebaikan dapat melekat dalam diri setiap orang pula. Bahkan apabila ada saudara kita yang melakukan keburukan dan melanggar aturan, maka hal itu juga merupakan tanggungjawab kita, sehingga kita berkewajiban untuk mencegah dan menyerunya.

Setiap Muslim bertanggungjawab atas dirinya, keluarganya, tetangganya dan lingkungannya, maka dari itu setiap Muslim harus saling menasehati dan mengingatkan kepada kebaikan kepada saudaranya agar setiap Muslim dapat terpelihara kehidupannya. Jika tanggungjawab berdakwah tidak dilakukan oleh setiap orang, maka bagaimana mungkin aqidah islamiyah, amal ibadah, akhlakul karimah dan rasa persaudaraan dapat terpelihara di antara kaum muslimin.

0Shares

Read Previous

Rahasia di Balik Syukur

Read Next

Ibnu Sina dan Kearifan Timur

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow On Instagram
Open chat