Rahasia di Balik Syukur

0Shares

Oleh : Astri Arna Malia

Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan dan kekurangan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan september 2019 sebesar 24,79 juta orang. Banyaknya jumlah penduduk miskin tersebut berdampak pada titik kritis kebahagiaan yang dirasakan dengan keadaan serba kekurangan.


Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Okiana dan Luthfi diperoleh beberapa penduduk di Dusun Deliksari mempunyai cara tersendiri untuk bahagia yaitu dengan rasa menghargai setiap apa saja yang dimiliki. Rasa menghargai memunculkan rasa syukur kepada-Nya. Secara etimologi kata syukur diambil dari bahasa Arab yang berasal dari kata syakara-yasykuru-syukûron, berarti berterima kasih kepada-Nya. Bila disebut kata asy-syukru, maka artinya ucapan terimakasih. Sedangkan menurut terminologi syukur berarti mencari ridho (suka, puas). Syukur adalah rasa berterimakasih yang dicurahkan atas segala sesuatu yang telah dianugerakan kepada hamba untuk penciptanya. Baik dari kenikmatan maupun ujian, semua perlu disyukuri. Syukur atas kenikmatan yang diberi dan kesedihan yang sedang di uji.

Seseorang yang bersyukur merupakan seseorang yang dapat mengenali nilai karunia dari yang Maha Kuasa. Orang yang bersyukur mampu memaknai segala hal tersebut sebagai bentuk terimakasih dan mengekspresikannya dalam lisan serta perbuatan. Oleh karena itu, hidup yang dikonsepkan dengan rasa syukur akan berbeda hasilnya dengan yang tidak. Rasa syukur tersebut dapat menjadi kekuatan dan keutamaan positif yang dapat mengarahkan pelakunya menjadi lebih tenang dan bahagia dalam menjalani hidup.


ثَوَابَ يُرِدْ وَمَنْ ۗمُؤَجَّ كِتَابًا اللَّهِ بِإِذْنِ إِلَّا تَمُوتَ أَنْ لِنَفْسٍ كَانَ وَمَا الشَّاكِرِينَ يسَنَجْزِوَ ۚمِنْهَا نُؤْتِهِ الْآخِرَةِ ثَوَابَ يُرِدْ وَمَنْ مِنْهَا نُؤْتِهِ الدُّنْيَا


Menurut tafsir As-Sa’di, “yakni dengan qadhaa’-Nya. Tidak maju dan tidak mundur. Oleh karena itu, mengapa kalian malah mundur? Padahal mundur tidak menolak kematian dan tetapnya kalian (bersabar) pun tidak mengakhiri kehidupan. Dengan demikian, kalau seseorang ditakdirkan akan mati, maka ia akan mati walau pun tanpa sebab dan kalau pun seseorang diancam mati atau ada usaha dari orang lain untuk membunuhnya, maka dia tidak akan mati sampai tiba ajalnya. Tidak disebutkan balasannya karena banyak dan besarnya balasan, dan bahwa balasan akan diberikan sesuai tingkat syukur seseorang; sedikit atau banyak”. Hal ini sesuai dengan pribahasa, apa yang dituai maka itulah yang akan dipanennya, seberapa banyak seseorang dalam bersyukur maka dia akan lebih memaknai karunia yang diberikan dari yang Maha Kuasa dan menerimanya tanpa meninggalkan optimisme dalam meneruskan kehidupan. Rasa optimisme dalam hal mencari nafkah dan positive thinking bahwa selalu ada rezeki yang diberikan dan tidak akan ada yang kekurangan menjadi indicator selalu bersyukur.


Rasa syukur bukan hanya diucapkan melalui lisan namun disertai juga dengan perbuatan. Seperti halnya taat akan setiap perintah-Nya, berbuat baik terhadap sekitar, menjaga lisan dari perkataan kotor, berbakti kepada orang tua, menjadi seseorang yang bermanfaat, dan lain sebagainya. Hakekat yang sebenarnya dari rasa syukur yaitu melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Sedangkan, dasar dari rasa syukur disusun oleh 3 komponen utama yaitu rasa apresiasi yang hangat dengan mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang. Dimulai dengan adanya niat baik, menyusun rencana, lalu action dengan tindakan yang positif.

Sebagai hamba yang sepatutnya selalu mengejar menjadi seorang yang beriman maka cocok untuk selalu mempraktekkan rasa syukur. Ibn Qayyim Al-Jawziyyah menjelaskan bahwa iman terdiri dari dua bagian, setengahnya adalah kesabaran (sabr) dan setengahnya lagi adalah bersyukur (shukr). Karena tidaklah ada dari manusia melainkan diuji dengan keselamatan agar diketahui bagaimana syukurnya, atau diuji dengan sebuah bencana agar diketahui bagaimana sabarnya.


Praktek yang kerap terjadi yaitu dengan ujiian kesuksesan maupun kemelaratan. Semua harta dan kesuksesan hanya titipan sang pencipta. Positive thinking salah satu cara untuk terus bersyukur, berfikir setiap ujian akan membawa yang diuji menjadi seseorang yang lebih kuat. Tidak ada kesuksesan dari hasil jerih payah melainkan jika disandingkan dengan tawakkal kepada-Nya. Semua diuji dengan kondisi masing-masing, kekayaan sebagai ujian begitupun kemiskinan juga berupa ujian. “Kelak, kita tidak akan ditanya seberapa banyak hasil yang didapat. Tapi sejauh mana usaha yang telah diperbuat untuk mensyukuri nikmat-Nya”.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Yollanda Firaressy tahun 2015 terhadap penduduk miskin di Kelurahan Karam Pulau Karam Kecamatan Sukajadi mendapatkan hasil bahwa penduduk tersebut memiliki rasa syukur walaupun dalam ekonomi yang kurang baik. Perwujudan dari rasa syukur yang ditunjukkan dengan tetap berusaha dan tak berputus asa. Mereka yang hidup serba kekurangan tetapi masih bisa merasakan kebahagiaan. Adapun beberapa indikator kebahagiaan dapat dicapai yaitu dengan mensyukuri setiap keadaan, taat beribadah, saling tolong-menolong, dan dapat berkumpul bersama keluarga. Rasa syukur akan setiap ketentuan-Nya memberikan rasa bahagia yang banyak orang belum mengetahuinya.


Ada salah satu doa yang pada saat itu Nabi Sulaiman mendengar seekor semut menyerukan kepada semut lainnya untuk masuk ke sarang agar tak terinjak oleh nabi sulaiman dan bala tentaranya. Nabi sulaiman tersenyum mendengar seruan semut tersebut dan berdoa :


صَالِحًا اَعۡمَلَ اَنۡ وَ وَالِدَیَّ عَلٰی وَ عَلَیَّ اَنۡعَمۡتَ الَّتِیۡۤ نِعۡمَتَکَ شۡکُرَآ اَنۡ اَوۡزِعۡنِیۡۤ رَبِّ قَالَ وَ قَوۡلِہَا مِّنۡ ضَاحِکًا فَتَبَسَّمَ ۝الصّٰلِحِیۡنَ عِبَادِکَ فِیۡ بِرَحۡمَتِکَ اَدۡخِلۡنِیۡ وَ تَرۡضٰىہُ


“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang engkau ridhoi, dan masukkan lah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang sholeh” (Q.S An-Naml [27] : 19).


Oleh karena itu, Atas semua kenikmatan yang diperoleh, sejatinya kita semua patut bersyukur setiap saat atas segala hal. Walaupun sedang dalam keadaan sangat kesulitan, InsyaAllah akan ada jalan dan penyelesaian. Cukup mensyukuri apa yang ada sekarang maka kita semua dapat bahagia. Karena syukur merupakan salah satu indikator menghasilkan rasa bahagia.


Wallahu a’lam bishawab

0Shares

Read Previous

Liberalisasi Pemikiran Islam: Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis

Read Next

Apakah Saya Juga Wajib Berdakwah? Absolutely Yes!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow On Instagram
Open chat