Perjuangan Besar dimulai dari Masjid

Foto: Ilustrasi

0Shares

Oleh: Rizky Bayu Kurniawan (Departemen Taklim PW PII Yogyakarta Besar 2018-2020)

Umat Islam tak akan pernah lepas dari Masjid. Hal ini dikarenakan sebagian aktivitas ibadah umat Islam dilaksanakan dari masjid. Seperti sholat, kajian, jihad, dan masih banyak lagi yang dilakukan dari masjid. Lantas dikondisi yang ada saat ini terkadang masjid telah dikerdilkan hanya untuk aktivitas sholat dan kajian. Kedua aktivtas ibadah itu diidentikan sebagai ibadah yang dilakukan di Masjid. Telah disepakati bahwa Masjid merupakan tempat untuk beribadah, bukan tempat untuk bergurau tak tentu arah, apalagi tempat untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Secara fitrah tujuan penciptaan manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Ad-Dhariyat: 56)

Lantas apakah yang dimaksud beribadah hanya sholat dan kajian? Tentu saja tidak demikian. Tujuan penciptaan untuk beribadah tersebut tentu dapat mengembalikan kita pada alasan untuk apa kita ada. Tentu beribadah adalah maksud hidup kita, sampai kelak usia telah tiada. Oleh karena itu setiap aktivitas yang dilakukan oleh makhluk-Nya secara fitrah adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Mulai dari buaian hingga ajal menjelang. Sehingga sudah selayaknya kita merefleksi diri untuk kembali kepada fitrah diciptakannya diri, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Jika tidak maka kita telah menjauh dari fitrah diciptakannya manusia.

Masjid yang menjadi tempat terindah di dunia, tentu tak hanya menjadi tempat singgah untuk menunaikan kewajiban sholat 5 waktu. Namun masjid harus menjadi tempat yang dapat melepaskan segala permasalahan umat. Mulai dari permasalahan perut, hingga permasalahan perjuangan Dakwah dan Jihad Fisabilillah. Dengan niatan untuk beribadah dan keistiqomahkan dalam prosesnya, segala aktivitas yang dilakukan di masjid sudah seharusnya menjadi ibadah. Bukahkah salah satu tempat yang diutamakan pada masa Hijrah Rosulullah SAW ketika hijrah dari Makkah ke Maddinah adalah Masjid? Bukankah masjid telah menjadi pusat kepemimpinan oleh Rosulullah SAW?

Tentu telah kita ketahui bersama dari beberapa referensi ataupun kajian tentang perjuangan Rosulullah SAW yang dimulai dari Masjid. Hal ini seharusnya menjadi teguran dan tamparan yang keras bagi hari yang keras ini. Mengaku memperjuangkan agama ini sebagai dakwah, namun enggan atau malah menjauh dari Masjid. Beraktivitas di Masjid akan mendapat banyak pahala. Hal ini tak hanya ketika telah berada di Masjid, namun berjalannya kita menuju Masjid juga akan melahirkan kebaikan.

Barang siapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim No. 1553)

Sangat luar biasa dan menjadi teguran bagi diri yang merasa ikut memperjuangkan agama, namun tidak cinta dengan Masjid. Seharusnya kita malu pada para pendahulu yang berjuang untuk beribadah ke masjid, memperjuangkan masjid, dan berjuang dari masjid. Mereka selalu dekat dari Masjid, pergi dan kembali pun dari masjid. Masjid seharusnya menjadi tempat untuk membahas berbagai persoalan umat Islam. Seperti yang kita ketahui bahwa Rosulullah SAW menjadi pusat pemerintahan, pusat kajian, pusat latihan militer dan berbakai resolusi dakwah lahir dari sana. Penakhlukan 1.300 pasukan Quraisy oleh 313 pasukan Musliminpun akhirnya terjadi. Dan masih banyak lagi perjuangan kaum muslimin yang tidak lepas dari Masjid. Teringat salah satu ustadz di Masjid Jogokaryan Yogyakarta yang mengatakan bahwa ketika kita ke Masjid, seharusnya segala urusan kita juga bisa diselesaikan.

Sudah seharusnya para aktivis dakwah kembali ke Masjid untuk menyusun strategi dakwah dengan semangat kolaborasi dan zirah ukhuwah. Tidak kita sedikit saja menengok perjuangan kaum Muslimin di negara-negara terjajah? Demi ke masjid dan mempertahankan Masjid, darah mereka menjadi air penghias bumi dan nyawa mereka menjadi taruhan prisai pelindung sejati. Masjidil Aqsa yang menjadi Kiblat awal umat Islam sedang tak baik-baik saja. Perjuangan mempertahankannya dilakukan oleh rakyat Palestina. Apakah itu hanya untuk kepentingan mereka? Ternyata tidak. Mereka memperjuangkan itu semua untuk Umat Islam diseluruh penjuru dunia. Walau tak masuk logika ketika peluru dibalas batu, ketika roket dibalas balon udara, dan ketika nyawa palestina dibalas diam oleh dunia. Hingga pernah terjadi disuatu masa, ketika puluhan tahun Baitul Maqdis dikuasai oleh musuh akhirnya berhasil direbut kembali (23 Rajab 583 H) oleh Salahudin Al Ayubbi melalui pertempuran yang gagah.

Tentu masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang tentu tidak jauh dari Masjid. Bukan hanya berangkat dari Masjid, namun juga untuk memperjuangkan Masjid. Betapa sangat dustanya seorang yang mengaku Islam, namun tak tergores minimal perasaannya ketika Masjid dirusak atau sampai dihancurkan. Ketika kita bergeser ke Nusantara tentu tak lepas dari perjuangan para panglima dakwah, merekalah Wali songo yang berjuang hingga tegaknya Islam ditanah Jawa dan menyebar ke Nusantara. Masjid Agung Demak adalah salah satu bukti, bahwa pentingnya Masjid untuk mendukung sebuah perjuangan. Tentu berbagai referensi terkait sejarahnya telah dapat kita temui dan dengan berbagai versi. Namun dapat kita sepakati bahwa masjid tak akan lepas dari perjuangan besar umat Islam.

Pelajar Islam Indonesia (PII) yang merupakan salah satu mata rantai perjuangan umat tentu perjuangannya tidak bisa jauh dari Masjid. Hal ini dapat dilihat dari sejarah awal bangkitnya, melalui perenungan oleh Pak Joesdi Ghozali atas berbagai permasalahan umat ketika itu. Beliau melakukan perenungan di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Hingga akhirnya sampai saat ini hasil perenungan tersebut PII hadir membersamai umat di usianya yang ke 73 tahun. Peristiwa itu diperingati dengan Hari Bangkit (HARBA) PII yang dilaksanakan setiap pada tanggal 4 Mei disetiap tahunnya. Namun sayang yang terjadi pada peringatan itu adalah kegiatan nostalgia dan sejarah pemersatuan dualisme pendidikan. Namun jarang diinggung dan dikembalikan bahwa Masjid adalah tempat lahirnya PII. Sehingga sangat disayangkan jika kini, kader PII dan pergerakannya jauh dari Masjid. Kemudian jika kita melihat problematika yang dihadapi saat ini, bisa jadi karena PII telah jauh dari Masjid. Minimal ketika azan berkumandang, enggan dan tak tergugah hatinya untuk bersegera ke Masjid. Sungguh sangat disayangkan ketika dahulu wadah ini lahir dari Masjid, namun saat ini perjuanggannya tidak menyentuh dan bangkit dari Masjid.

Melihat hal tersebut tentu perlu dilakukan refleksi besar-besaran kepada Kader PII untuk kembali melangkahkan perjuangannya dari Masjid dan untuk Masjid. Selama ini dalam ranah tujuan perjuangan PII, sering digaungkan penegakan Izzul Islam Wal Muslimin. Namun realitanya tidak ada pergerakan yang terfokus pada hal itu. Pergerakan masih sama setiap tahunnya dan bahkan terkadang tidak maksimal karena terbentur problematika. Maka boleh jadi karena kini telah jauh dari Masjid. Untuk itu sangat direkomendasikan agar ada gerakan bersama PII disegala penjuru struktural dan kadernya untuk melakukan gerakan berbasis Masjid. Membangkitkan kepengurusan ujung tombak berupa komisariat-komisariat berbasis Masjid. Penawaran program yang utama harus digaungkan bersama secara Nasional, yaitu gerakan sholat subuh berjamaah. Mengajak setiap lini masyarakat sekitar Masjid untuk bersama-sama melakukan sholat subuh berjamaah di Masjid. Hingga tak dapat dibedakan jumlah jamaah antara sholat jum’at dan sholat subuh berjamaah. Tentu seperti yang kita ketahui bahwa jika hal itu terjadi, maka itu merupakan salah satu tanda Izzul Islam Wal Muslimin akan segera datang. Semoga Allah SWT menjaga diri kita, manakala kita menyimpang.

Wallahu A’lam Bishawab

0Shares

Read Previous

The Lost Smiles and Covid-19 Post-truth

Read Next

Liberalisasi Pemikiran Islam: Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow On Instagram
Open chat