Pemuda dan Kejayaan Islam

0Shares

Oleh: Mu’adz Al Hafidz (Pemuda Pejuang Khilafah)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemuda adalah laki-laki yang berusia muda. Usia muda ini berada pada kisaran 18 – 30 tahun, ada juga yang menyebutkan hingga 40 tahun. Di usia ini manusia mencapai puncak keemasannya, baik dari segi fisik juga mentalnya.

Berbicara bagaimana spesialnya sosok pemuda, maka kita akan selalu teringat kata-kata Bung Karno dalam menyanjung sosok pemuda, ia bertutur “beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 Pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia. Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia”.

Di dalam Islam, pemuda telah Allah spesialkan, melalui lisan yang mulia Muhammad Saw, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …” [HR. Bukhari no. 1357 dan Muslim no. 1031].

Pemuda telah membuktikan bahwa diri mereka memang layak mendapatkan posisi yang spesial di tengah-tengah masyarakat. Jika kita lihat kelompok dakwah pertama yang hadir di muka bumi ini yang dibentuk oleh Muhammad Saw, kita akan jumpai sosok pemuda yang bahkan masih sangat belia, namun kontribusi mereka terhadap dakwah Islam tak ada duanya.

Mereka diantaranya: “(1) ‘Ali bin Abi Thalib yang berusia 8 tahun, (2) Zubair bin al-Awwam 8 tahun, (3) Thalhah bin ‘Ubaidillah seorang anak muda berumur 11 tahun, (4) Arqam bin Abi al-Arqam anak muda berusia 12 tahun, (5) ‘Abdullah bin Mas’ud berusia 14 tahun, (6) Sa’id bin Zaid berumur kurang dari 20 tahun, (7) Sa’ad bin Abi Waqash 17 tahun, (8) Mas’ud bin Rabi’ah 17 tahun, (9) Ja’far bin Abi Thalib 18 tahun, (10) Shuhaib ar-Rumi di bawah 20 tahun, (11) Zaid bin Haritsah sekitar 20 tahun, (12) ‘Utsman bin ‘Affan sekitar 20 tahun, (13) Thulaib bin ‘Umair sekitar 20 tahun, (14) Khabab bin al-‘Arat sekitar 20 tahun, (15) ‘Amir bin Fuhairah 23 tahun, (16) Mush’ab bin ‘Umair 24 tahun, (17) Miqdad bin al-Aswad 24 tahun, (18) ‘Abdullah bin Jahsy 25 tahun, (19) ‘Umar bin Khaththab 26 tahun, (20) Abu ‘Ubaidah bin Jarrah 27 tahun, (21) ‘Utbah bin Ghazwan 27 tahun, (22) Abu Hudzaifah bin ‘Utbah sekitar 30 tahun, (23) Bilal bin Rabah sekitar 30 tahun, (24) ‘Ayasy bin Rabi’ah sekitar 30 tahun, (25) ‘Amir bin Rabi’ah sekitar 30 tahun, (26) Na’im bin ‘Abdillah sekitar 30 tahun, (27) ‘Utsman, (28) ‘Abdullah, (29) Qudamah, dan (30) as-Saib bin Mazhun bin Hubaib. Umur Utsman sekitar 30 tahun, Abdullah 17 tahun, Qudamah 19 tahun dan as-Saib sekitar 20 tahun, (31) Abu Salmah Abdullah bin Abdul al-Asad al-Makhzumiy yang umurnya sekitar 30 tahun, (32) Abdurrahman bin Auf sekitar 30 tahun, (33) Ammar bin Yasar berumur antara 30 hingga 40 tahun, (34) Abu Bakar ash-Shidiq berumur 37 tahun.” (Taqiyuddin, 2012:18)

Merekalah yang disebut kutlah sahabat, sebuah kelompok dakwah terbaik yang dikader langsung oleh manusia terbaik, Muhammad Saw. Tidak heran di tangan mereka Islam mampu menggulung peradaban jahiliyah Bangsa Arab, menggantikannya dengan peradaban Islam yang mulia.

Estafet kepemimpinan Islam terus berlanjut, pun tetap berada di tangan para pemuda. Kita tentu mengenal sosok Salahuddin al Ayyubi, beliau meninggalkan kemewahan dan memilih memimpin pasukan untuk menghadapi pasukan salib yang telah menguasai Yerusalem, dan melakukan pembantaian umat muslim yang ada di sana.
Saifuddin al Qutus, sang pemimpin perang Ain Jalut. Beliau yang mengakhiri kejayaan pasukan Mongol yang telah memporak-porandakan Baghdad, yang menjadi ibu kota Daulah Islam saat itu.

Muhammad Al-Fatih, diusianya yang baru menginjak usia 21 tahun telah berhasil menaklukan Kostatinopel, ibu kota Romawi Timur. Beliau yang telah merealisasikan bisyarah Rasulullah Saw, bahwa Konstatinopel akan jatuh ke pangkuan kaum Muslimin dan yang membebaskannya adalah sebaik-baik pemimpin.

Tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah disebabkan para pemuda yang kegundahannya selalu karena memikirkan Islam, fokusnya adalah pada perkara Agamanya. Bagaimana agar dakwah terus tersebar, memikirkan agar setiap penghalang dakwah dapat disingkirkan. Inilah yang menjadi rahasia keberhasilan pemuda Islam generasi sebelumnya.

Islam ada di hati-hati mereka. Pola fikir dan pola sikap mereka terikat pada Islam. Syaksiyah Islamiyah jadi karakter mereka. Sebab tujuan dari segala tujuan yang mereka ingin capai adalah Ridho Allah SWT.

Apakah karakter ini telah terlihat pada generasi pemuda hari ini? Mungkin belum terlalu mencolok, namum yakin dan percaya bahwa generasi terbaik itu akan kembali. Rumusnya seperti itu, jika Khilafah akan kembali sesuai janji Allah, maka yang mengembalikkannya harus memiliki karakter yang sama dengan generasi awal yang memperjuangkan dan berhasil menegakkannya.

Tanda-tanda itu telah ada, pemuda hari ini mulai banyak menceburkan dirinya dalam aktifitas dakwah, sibuk mengkaji perkara agama, menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan maupun video yang berisi konten dakwah. Pemuda hari ini mulai memainkan peranannya demi kembalinya kejayaaan Islam.

Untuk pemuda yang hari ini yang masih sibuk dengan perkara dunia yang melelahkan, sibuk dengan urusan remeh temeh, sibuk menghabiskan waktu bermain game, sibuk nongkrong tidak jelas, sibuk dan sibuk mengejar cinta pujaan hati, please stop! Dunia hari ini membutuhkan potensi kita, jangan habiskan untuk sesuatu yang sia-sia.

Kekacauan yang ditimbulkan oleh hadirnya ideologi sekuler, baik Kapitalisme Demokrasi, maupun Sosialisme Komunisme, menjadi genting untuk segera kita akhiri. Jika bukan kepada pemuda umat akan berharap, maka kepada siapa lagi? Jika bukan hari, ini maka kapan lagi?

Mari kita bersama-sama mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah Swt, mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang telah kita perbuat di Dunia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam hal apa ia habiskan, , tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” [HR. At-Tirmidzi, Lihat Ash-Shahihah no. 946]

Semoga kontribusi kita dengan memperjuangkan kembalinya kejayaan Islam, dengan tegaknya Khilafah menjadi hujjah kita di hadapan Allah agar kita bisa disatukan dengan Rasulullah Saw, dan pemuda generasi awal di dalam jannatul Firdaus-Nya. Aamiin.

0Shares

Read Previous

RUU Minerba Disahkan Kala Pandemi: Kebijakan untuk Siapa?

Read Next

Islam Tidak Mengenal Adanya BPJS

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow On Instagram
Open chat