Bagian 2: Optimisme Kita Bersama Kebebasan Palestina (Yaumul Quds)

0Shares

Oleh: Windari

Kota suci Quds, Masjidil Aqsha tersimpan sejarah besar perjalanan Rasul. Rasulullah saw melakukan perjalanan spiritual dari Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsha, menuju Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat. Perjalanan Rasul merupakan pengalaman religius yang tidak terpisahkan oleh aspek material tempat dan kesucian. Al Aqsha juga menjadi kiblat pertama untuk para muslim shalat.

Al Aqsha, sholat, dan spiritual. Jika disana adalah tempat bersejarah yang mencakup aspek material dan spiritualitas agung hubungan Tuhan dan Rasul. Mungkinkah kandungan spiritualitas itu telah hilang seiring berjalannya waktu? Apa arti kesucian Al Quds? Bukankah shalat senantiasa didirikan oleh para muslim?

Dari Al Aqsha, Rasul melakukan perjumpaan dengan Tuhan, dengan sholat kita mengarahkan jiwa pada Tuhan. Bagaimana kita menghadapkan shalat kita dengan Al Aqsha? Apa yang sedang terjadi di Al Aqsha? Jika sholat adalah tiang agama, dan menjadi basis transformasi, dimana nilai sholat mesti kita letakkan? Dapatkah kita menemukan shalat kita pada perubahan sosial?

Jika sholat adalah basis transformasi semestinya, senantiasa aktif dan menghidupkan setiap tindakan, yang mengarah pada transformasi sosial. Apa alasan kita untuk tidak menghidupkan shalat dengan semangat pembebasan Palestina? Dimana nilai trasformasi shalat, selain pada tempat asalnya? Bukankah tujuan kita bertemu dengan asalaNya? bagaimana setiap tindakan bertujuan pada peletakkan kemerdekaan Palestina?

Dengan shalat kita merindukan Tuhan, Rasul dan para muslim bertemu pada tindakan shalat, dalam transformasi shalat kita bertemu pada nilai kemanusiaan. Kemanusiaan kita bertahan dengan cinta dan keadilan. Bagaimana kita mampu melihat spiritualitas kita secara nyata? senyata Al Quds dan kesuciannya? Orientasi kepada Tuhan menjadi dasar cinta universal. Suatu cita-cita agung terlepasnya dari ketertindasan. Bahwa tidak ada yang berhak menzalimi manusia yang lain dengan semangat perbaikan shalat berusaha menghidupkan semangat dan optimisme kebebasan Palestina.

Bagaimana kita berpikir bahwa penderitaan Palestina hanyalah persoalan suatu negara sebatas Palestina-Israel? Wajah kebenaran dan kebatilan telah jelas. Yang terjadi di Palestina adalah wajah keimanan umat saat ini. Nilai spiritualitas dapat dilihat dari seberapa besar keberpihakan dan perhatiannya kepada masyarakat Palestina.

#freepalestine
#alqudsday2020

0Shares

Read Previous

Bagian 1: Kemerdekaan Kita, Bersama Menyuarakan Kemerdekaan Palestina

Read Next

Menjadi Bayi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow On Instagram
Open chat